Bagikan:

NTT Kampanyekan 'Cinta Pangan Lokal'

Kepala Biro Kesejahteraan Kantor Gubernur NTT, Bartol Badar mengatakan kampanye ini untuk mendukung program pemerintah pusat sehari tanpa beras.

BERITA | NUSANTARA

Kamis, 15 Okt 2015 17:15 WIB

Author

Silver Sega

NTT Kampanyekan 'Cinta Pangan Lokal'

Aneka pangan lokal dari NTT. (Foto: nttprov.go.id)

KBR, Kupang - Pemerintah provinsi Nusa tenggara Timur terus mengkampanyekan gerakan "Cinta Pangan Lokal" kepada warganya.

Kepala Biro Kesejahteraan Kantor Gubernur NTT, Bartol Badar mengatakan kampanye ini untuk mendukung program pemerintah pusat 'sehari tanpa beras'.

"Bila kita semua dapat mengubah pola makan ini, maka pola pikir dan pola opini masyarakat bahwa pangan lokal sebagai indikator kemiskinan dapat diubah, pangan lokal menjadi kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Timur," kata Bartol Badar di Kupang Kamis (15/10).

Bartol mengatakan ada keanekaragaman pangan lokal di NTT yang sudah diolah dan diberi sentuhan citarasa berbeda.

"Dengan demikian pangan lokal makin hari makin dinikmati dan kembali dinikmati menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur," kata Bartol.

Kepala Biro Kesejahteraan Kantor Gubernur NTT, Bartol Badar menambahkan NTT memiliki banyak jenis pangan lokal. Pangan lokal itu, jika diolah secara lebih baik, bisa menjadi ikon wisata kuliner.

Badan Bimas Ketahanan Pangan atau B2KP NTT secara rutin menggelar pameran dan lomba menu pangan lokal, antarkabupaten di NTT.

Bartol berharap, pemerintah kabupaten juga tidak henti-hentinya mengkampanyekan pangan lokal kepada warga, agar warga tidak minder atau malu makan pangan lokal.

Di NTT banyak pangan lokal berbahan dasar jagung seperti jagung katema, jagung bose (jagung rebus dicampur irisan daging), jagung titi (emping jagung/makanan kecil), nasi jagung, atau berbahan dasar ubi seperti ubi rebus Nuabosi, kue rambut dan lain-lain.

Editor: Agus Luqman 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Pengungsi dan Persoalan Regulasi di Indonesia