Warga Blokir Akses Menuju Kebun Sawit PT PATI di Bengkulu

Warga menuntut janji perusahaan tersebut untuk segera membayar dana kompensi bagi enam desa penyangga yang belum dibayar selama lima bulan.

BERITA | NUSANTARA

Minggu, 13 Sep 2015 18:22 WIB

Author

Evi Tarmizi

Warga Blokir Akses Menuju Kebun Sawit PT PATI di Bengkulu

Warga memalang akses jalan menuju kebun kelapa sawit PT PATI. (Foto: Evi Tarmizi/KBR)

KBR, Mukomuko – Warga enam desa di kecamatan Sungai Rumbai kabupaten Mukomuko, Bengkulu melakukan aksi dengan menutup jalan menuju ke area perkebunan sawit PT Perkebunan dan Dagang Aceh Timur (PATI).

Warga menuntut janji perusahaan tersebut untuk segera membayar dana kompensi bagi enam desa penyangga yang belum dibayar selama lima bulan.

Kepala Desa Sidodadi Shokib mengatakan sesuai kesepakatan pada 28 Agustus 2015 lalu, antara perusahaan dengan desa penyangga mestinya dana kompensasi sudah dibayar paling lambat 11 September 2015.

Namun pihak perusahaan belum juga membayar dana kompensasi tersebut. Selain dana kompensasi, perusahaan juga menjanjikan akan memberikan kebun kas desa kepada  masing-masing desa seluas tiga hektar.

"Saya mewakili rekan–rekan kepala desa di enam desa penyangga PT PATI sesuai dengan komitmen bersama. Kami menuntut  janji perusahaan untuk mensejahterahkan desa penyangga. Karena perusahaan tidak menepati janji yang disepakati maka kami menutup jalan keluar masuk perusahaan dan kami minta pihak perusahan segera membayar dana kompensasi serta memberikan kebun kas desa untuk masing–masing desa seluas tiga hektar," kata Shokib kepada KBR, Sabtu (12/9).

Shokib menambahkan aksi menutup jalan akan terus berlanjut sampai tuntutan dari desa penyangga di penuhi oleh perusahaan.

Enam desa penyangga antara lain Desa Sidodadi, Desa Retak Mudik, Desa Mekar Sari, Desa Banjar Sari, Desa Tunggang dan Desa Gading Jaya.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme