Walikota Kupang: Ribuan Warga Dipaksa Pakai Meteran Prabayar

Walikota Kupang Yonas Salean mengatakan warganya kecewa karena dipaksa menggunakan sambungan listrik prabayar. Mereka menuntut agar PLN mengganti meteran listrik mereka ke meteran biasa.

BERITA | NUSANTARA

Kamis, 17 Sep 2015 14:31 WIB

Author

Silver Sega

Walikota Kupang: Ribuan Warga Dipaksa Pakai Meteran Prabayar

Ilustrasi pengisian token sambungan listrik prabayar PLN. (Foto: diskominfo.jabarprov.go.id)

KBR, Kupang - Lebih dari lima ribu pelanggan listrik PLN di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur berencana berunjukrasa ke Kantor PLN NTT dan Kantor PLN Kupang.

Walikota Kupang Yonas Salean mengatakan warganya kecewa karena dipaksa menggunakan sambungan listrik prabayar. Mereka menuntut agar PLN mengganti meteran listrik mereka ke meteran biasa.

"Pergantian meteran listrik menjadi listrik prabayar itu tergantung kemauan konsumen. Kalau dia mau ganti ya silahkan, tapi jangan dipaksakan. Nah kita di kota ini kita belum siap, tapi dipaksakan. Jadi mereka akan demo sekarang. Ada lima ribuan lebih," kata Yonas Salean di Kupang, Kamis (17/9).

Yonas mengatakan telah meminta warga untuk membatalkan rencana demonstrasi.

"Saya bilang tahan dulu, kita koordinasikan dengan PLN dulu. Kalau memang masih tetap dipaksakan berarti PLN bertanggung jawab terhadap seluruh keadaan kota ini. Kalau terjadi sesuati di kota ini siapa yang tanggungjawab gara-gara prabayar. Ya kami angkat tangan," lanjut Yonas.
 
Yonas Salean mengatakan akan memanggil manajemen PT PLN NTT dan PLN Kupang untuk membicarakan soal keluhan warga terhadap pergantian paksa sambungan listrik prabayar itu.

Sistem prabayar merupakan program PLN agar pelanggan bisa mengendalikan pemakaian listrik sesuai kebutuhan serta untuk menghindari kesalahan pencatatan.

PT PLN mengklaim sistem prabayar menguntungkan pelanggan. Selain pelanggan bisa memantau pemakaian listriknya, juga mudah membeli token listrik atau isi ulang listrik lewat ATM atau tempat-tempat pembayaran. Nominal token bervariasi mulai Rp 20.000 sampai dengan Rp  500.000.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17