Sidak di PLTU Cilacap, DPRD Temukan Pekerja Asing Tak Bersertifikat

Ketua Komisi D DPRD Cilacap, Taufikurrohman meminta Dinas Sosial Tenaga Kerja serta kantor Keimigrasian memulangkan tenaga kerja yang tidak memiliki sertifikat.

BERITA | NUSANTARA

Minggu, 06 Sep 2015 18:37 WIB

Author

Muhamad Ridlo Susanto

Sidak di PLTU Cilacap, DPRD Temukan Pekerja Asing Tak Bersertifikat

Ilustrasi PLTU Bunton Cilacap. (Foto: M Ridlo/KBR)

KBR, Cilacap – DPRD Cilacap Jawa Tengah menemukan ada tenaga kerja asing tak bersertifikat yang bekerja di proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa Tengah 2 Bunton, Cilacap.

Ketua Komisi D DPRD Cilacap Taufikkurrohman mengatakan sertifikat keahlian ini merupakan prasyarat memperoleh Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) bagi perusahaan yang hendak mempekerjakan buruh asing.

Namun, dokumen di PLTU ternyata tidak lengkap. Para pekerja itu tidak bisa menunjukkan sertifikat keahlian dengan spesifikasi khusus.

Taufikurrohman meminta Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Cilacap segera mendata sertifikat sekaligus jumlah pekerja asing yang bekerja di PLTU dan sejumlah perusahaan multinasional di Cilacap, seperti Pertamina dan Pabrik Semen Holcim.

"Tenaga kerja asing yang ada di Indonesia itu sesuai dengan spesifikasi mereka apa tidak. Itu kan dibuktikan dengan sertifikat mereka. Nah ternyata kan saya tidak melihat sertifikatnya. Dan ini memang sedang diminta oleh Dinsosnakertrans, sebab saya Sidak (ke PLTU) dengan Dinsos Nakertrans Cilacap, itu belum (ada) dan akan diurus oleh Dinsos Nakertrans. Sertifikatnya akan dilaporkan bahwa orang tersebut memang betul sesuai dengan spesifikasi untuk mendapat IMTA," kata Taufikurrohman.

Ketua Komisi D DPRD Cilacap, Taufikurrohman meminta Dinas Sosial Tenaga Kerja serta kantor Keimigrasian memulangkan tenaga kerja yang tidak memiliki sertifikat.

Dia menyebut jumlah pekerja asing di PLTU Cilacap 375 orang atau setara dengan 15 persen dari total pekerja dalam pengerjaan proyek pembangunan PLTU yang berjumlah 2500 orang. Namun, jumlah tersebut sudah berkurang pada masa akhir proyek ini. 

Editor: Agus Luqman  
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Pandemi dan Dampak Pada Kesehatan Mental Siswa

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Menanti Perhatian pada Kesehatan Mental Pelajar

Kabar Baru Jam 10