Bagikan:

Pasca Lebaran, Orang Rimba dan PT BKS Bertemu Bahas Tuntutan

PT Bahana Karya Semesta (BKS) menjanjikan bakal menemui orang rimba yang diusir dari tanah adat mereka. Pertemuan itu, kata LSM pendamping orang rimba, KKI Warsi, dilakukan pasca lebaran.

BERITA | NUSANTARA

Kamis, 07 Jul 2016 12:57 WIB

Pasca Lebaran, Orang Rimba dan PT BKS Bertemu Bahas Tuntutan

Presiden Jokowi menemui orang rimba di Kabupaten Sarolangung, Jambi, pada 30 Oktober 2015. Foto: ksp.go.id

KBR, Jakarta - PT Bahana Karya Semesta (BKS) menjanjikan bakal menemui orang rimba yang diusir dari tanah adat mereka. Pertemuan itu, kata LSM pendamping orang rimba, KKI Warsi, dilakukan pasca lebaran.

"Kami tidak secara tegas memberikan tenggat waktu, tetapi sudah ada kesepakatan kalau sehabis lebaran kalau kami akan lakukan pertemuan kembali bahas masalah ini," ujar Manager Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf pada KBR, Kamis (7/7/2016).

Rudi juga mengatakan, dalam pertemuan itu akan dibahas dua tuntutan yang diajukan orang rimba apabila penyelesaian kasus penyerangan dilakukan secara adat. Dua tuntutan itu yakni perusahaan harus mengalokasikan lahan dua hektar untuk masing kepala keluarga orang rimba. Selanjutnya, perusahaan harus mencabut aturan orang rimba tidak boleh memburu babi di lahan tersebut.

"Ini desakan dan mereka harus penuhi. Kalau tidak dipenuhi maka orang rimba hanya mengalah saja dan mereka hanya menjadi korban saja. Saya pastikan akan ada konflik lagi kalau terutama opsi mengizinkan berburu tidak diberikan, karena kelompok ini bisa melakukan hal lain dan ini sudah turun menurun," katanya.

Kata dia, apabila perusahaan tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan masalah ini dengan memenuhi dua tuntutan tadi, maka pihaknya bakal terus memperkarakan kasus penyerangan sebelumnya ke ranah hukum. Pasalnya, kedua opsi tadi merupakan hasil kesepakatan adat orang rimba atas kerugian yang mereka alami. Sedangkan dalam kasus penyerangan sebelumnya aparat kepolisian menyarankan menyelesaikan masalah ini secara adat dan kekeluargaan.

"Mereka sudah terlalu banyak mengalah, mereka sudah mengikhlaskan untuk tidak lagi membahas soal nilai kesejarahan harta benda mereka yang dirusak oleh pihak perusahaan. Asalkan tadi, tuntutan mereka dipenuhi. Lagi pula jumlah mereka tidak terlalu banyak, tidak akan menyulitkan perusahaan. Kalau tidak juga, maka penyerangan kemarin adalah kriminal dan kami akan perkarakan," ujarnya.

Pada awal Juni lalu, orang rimba bentrok dengan satpam perusahaan PT Bahana Karya Semesta di Kecamatan Air Hitam Kecamatan Sarolangun, Jambi. Keduanya bentrok saat satpam meminta orang rimba keluar kebun sawit dan dilarang memungut brondolan.

Akibatnya, dua orang rimba ditusuk, lima sepeda motor rusak, dan 1000 lembar kain orang rimba dibakar. Hasil kesepakatan perdamaian antara orang rimba dengan perusahaan menyebut bahwa perusahaan akan membayar ganti rugi atas kejadian itu namun melarang mereka untuk kembali mengambil hasil panen brondolan dan bermukim di areal perusahaan untuk selamanya.



Editor: Quinawaty


 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending