4 Tahun Operasi Pengejaran Teroris Ubah Kehidupan Warga Poso

Operasi pengejaran teroris di Poso, Sulawesi Tengah dinilai membawa dampak besar pada kehidupan masyarakat Poso.

BERITA | NUSANTARA

Sabtu, 23 Jul 2016 21:29 WIB

Author

Ninik Yuniati

4 Tahun Operasi Pengejaran Teroris Ubah Kehidupan Warga Poso

Perburuan jaringan teroris Santoso. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Operasi pengejaran teroris di Poso, Sulawesi Tengah dinilai membawa dampak besar pada kehidupan masyarakat Poso.

Direktur Institut Mosintuwu Lian Gogali mengatakan, selama empat tahun pelaksanaan operasi, masyarakat di enam kecamatan di Poso dilarang melakukan aktivitas berkebun coklat atau bertani padi di wilayah operasi. Kata dia, petani yang nekat tetap melakukannya bisa menjadi sasaran tembak lantaran tidak ada jaminan keamanan dari aparat.

"Kalau masyarakat berkebun, nggak ada jaminan dari aparat keamanan bahwa mereka berkebun itu dengan aman, dan bisa dikawal oleh aparat. Bayangannya, kalau mereka bisa berkebun karena ada aparat, sehingga mereka bisa merasa nyaman. Ini tidak, jadi mereka nggak boleh berkebun, karena justru bisa jadi sasaran tembak, tetapi juga bisa diduga mereka membantu memberikan logistik ke kelompok Santoso," kata Lian ketika dihubungi KBR, Sabtu (23/7/2016).

Lian Gogali menambahkan, kondisi ini memaksa 80 persen warga Poso beralih mata pencaharian lantaran hasil kebun tak lagi bisa diharapkan.

"Untuk bisa makan sehari-sehari atau untuk membiayai sekolah anak-anak, mereka menjadi buruh sawit di kabupaten Morowali, menjadi pemecah batu, pengangkut pasir, atau buruh harian di sawah-sawah yang bukan di daerah operasi keamanan," ujar dia.

Operasi pengejaran teroris, kata dia, juga meninggalkan trauma dan ketakutan pada warga. Di sisi pendidikan, kegiatan operasi terkadang mengganggu aktivitas belajar di sekolah.

"Anak-anak beberapa kali diliburkan karena peristiwa penembakan, tapi itu di khusus wilayah tertentu," tuturnya.


Trauma

Lian mengaku telah menyaksikan langsung perubahan ini terjadi di Poso. Lembaganya telah melakukan pendampingan untuk perempuan dan Anak di Poso sejak 2010.

Lian yang pernah dinobatkan sebagai perempuan inspiratif oleh pemerintah Amerika Serikat ini meminta pemerintah memerhatikan dampak serius dari operasi keamanan bagi warga Poso. Ia menyayangkan nasib dan aspirasi warga Poso yang dikorbankan demi operasi keamanan.

"Di tengah semua perayaan hiruk pikuk media soal Santoso berhasil ditembak tewas, tapi justru kemegahan perayaan itu membuat Santoso menjadi pahlawan, dua-duanya pahlawan, Santoso pahlawan, aparat keamanan pahlawan, lah masyarakat di mana? dianggap pihak ketiga , penonton," tukasnya.

Baca Juga:

Menurutnya, untuk pembangunan Poso ke depan, pemerintah seharusnya melibatkan warga. Lebih lanjut Lian mengungkapkan ketaksepahamannya dengan rencana operasi teritorial yang digagas oleh TNI.

"Operasi itu caranya gimana? bakti sosial, cetak sawah, bedah rumah, semua hal yang sebenarnya orang Poso bisa melakukan, dan bisa menentukan polanya, metodenya dan sebagainya, nggak perlu operasi, memangnya orang Poso nggak bisa?" tegas Lian.




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Presiden Menghidupkan Jabatan Wakil Panglima TNI