PLN Mukomuko Bengkulu Razia Meter Listrik Pelanggan

"Yang menunggak dua hingga tiga bulan hanya disegel, belum dibongkar," kata Asep Suherman.

BERITA | NUSANTARA

Senin, 20 Jun 2016 13:30 WIB

Author

Bambang Irawan

PLN Mukomuko Bengkulu Razia Meter Listrik Pelanggan

Ilustrasi pemeriksaan KWh meter listrik PLN. (Foto: setkab.go.id)

KBR, Mukomuko - Tunggakan para pelanggan Perusahaan Listrik Negara (PLN) di wilayah Mukomuko Bengkulu mencapai lebih dari Rp2 miliar. Tunggakan itu sudah terjadi sejak dua bulan lalu.

Manajer PLN Rayon Mukomuko, Asep Suherman mengatakan PLN sudah mengirim peringatan bagi pelanggan yang menunggak pembayaran selama satu sampai dua bulan.

Sementara pelanggan yang menunggak empat bulan atau lebih langsung dilakukan pemutusan saluran atau pembongkaran unit KWh meter.

"Tunggakan Rp2,2 miliar tersebut berasal dari tunggakan pelanggan PLN yang dihitung dari dua bulan ke atas. KWh atau meteran yang dibongkar adalah milik pelanggan yang menunggak iuran empat bulan ke atas. Yang menunggak dua hingga tiga bulan hanya disegel, belum dibongkar," kata Asep Suherman.

"Razia penarikan atau pemutusan KWh terus dilakukan dari sekarang, walau pun belum maksimal. KWh atau meteran yang berhasil ditarik dari pelanggan sekitar 100 unit lebih. Dan pemutusan sambungan listrik sudah kami lakukan sejak beberapa bulan yang lalu," lanjut Asep.

Manajer PLN Rayon Mukomuko, Asep Suherman menambahkan dari razia selama dua bulan terakhir PLN sudah membongkar lebih dari 100 lebih unit KWh meter dari pelanggan yang menunggak hingga empat bulan lebih.

Operasi razia KWH gabungan secara massal akan digelar setelah lebaran dengan bantuan PLN area Bengkulu guna penertiban pelanggan yang menunggak lainnya.

Asep Suherman menjelaskan bagi pelanggan yang telah mengalami pemutusan arus listrik permanen dapat kembali aktif namun dialihkan ke sistem listrik pra-bayar dengan gratis.

Namun para pelanggan harus tetap membeli token perdana dan sisa KWH untuk pergantian itu. Jumlah pelanggan PLN mencapai 26.000 lebih dan hanya baru 50 persen yang menggunakan KWh sistem Listrik Pra Bayar (LPB).

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Koalisi Gemuk Pemerintah Dinilai Ancam Demokrasi