Aktivis Lingkungan di Cilacap Tolak Normalisasi Sungai

Di Kabupaten Cilacap telah dilakukan normalisasi sungai berupa pengerukan, pelurusan, dan penanggulan sungai dengan nilai puluhan miliar rupiah.

BERITA , NUSANTARA

Selasa, 09 Jun 2015 13:25 WIB

Author

Muhamad Ridlo Susanto

Aktivis Lingkungan di Cilacap Tolak Normalisasi Sungai

Nipah dan tanaman endemik lain di bantaran sungai pasang surut mampu mencegah abrasi sungai. Foto: Muhamad Ridlo KBR

KBR, Cilacap – Aktivis lingkungan di Cilacap, Jawa Tengah menolak upaya penanggulangan bencana banjir dengan proyek normalisasi sungai. Sebab, normalisasi akan merusak ekosistem, ekonomi dan budaya masyarakat sekitarnya.

Koordinator Dewan Kehutanan Nasional Jawa Tengah, Jalu Sungging Septivianto mengatakan, dalam catatannya, di Kabupaten Cilacap telah dilakukan normalisasi sungai berupa pengerukan, pelurusan, dan penanggulan sungai dengan nilai puluhan miliar rupiah. 

"Bahwa upaya mendorong upaya normalisasi sungai itu akan merusak ekosistem dan ekonomi masyarakat. Perlu diketahui, bahwa di negara-negara maju itu, normalisasi sungai dengan cara melurus-luruskan sungai sudah dihentikan," kata Jalu kepada KBR, Selasa (9/6/2015).

Kata dia, pelurusan akan menyebabkan Daerah Aliran Sungai (DAS) berubah. Perubahan alur sungai ini akan merubah pula ekosistem yang membahayakan secara ekologi.

"Jadi misalnya di Jerman, dan Eropa normalisasi dengan pelurus-lurusan seperti itu sudah dihentikan. Mereka kemudian membuat membuat sungai berkelok kembali seperti aslinya, karena itu alur alam," tambahnya.

Jalu menambahkan, proyek normalisasi sungai dengan cara meluruskan itu hanya menguntungkan sebagian kecil pihak. Sementara masyarakat justru tidak mendapat manfaat. Sebab, banjir tetap saja terjadi di wilayah rawan banjir.

Ekosistem bantaran sungai, seperti DAS Cimeneng, Cibeureum dan Cihaur menjadi tempat berkembangnya beberapa tanaman endemik daerah pasang surut yang manfaatnya besar untuk masyarakat sekitar.

Penebangan dalam proyek normalisasi sungai menyebabkan masyarakat kehilangan mata pencaharian. Contohnya, tanaman nipah yang biasa disadap dibuat atap, makan kecil dan sejumlah kerajinan tangan oleh masyarakat.

Editor: Quinawaty Pasaribu

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Zero Waste, Ubah Salak Jadi Aneka Rupa

Zero Waste, Ubah Salak Jadi Aneka Rupa

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18