Bagikan:

Ini Pengakuan Lulung Soal Ahok Hingga Twitter

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana atau yang kerap disapa Lulung ?mengaku tak punya masalah dengan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

BERITA | NUSANTARA | PILIHAN REDAKSI | PILIHAN REDAKSI

Jumat, 20 Mar 2015 12:20 WIB

Ini Pengakuan Lulung Soal Ahok Hingga Twitter

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana (foto: Gungun Gunawan)

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana atau yang kerap disapa Lulung ?mengaku tak punya masalah dengan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Namun dia minta gubernur tak asal buka mulut. Lulung juga berkomentar soal serangan di Twitter dan Facebook. Berikut penjelasannya pada KBR. 

"Yang kita disampaikan oleh eksekutif kemarin itu bukan hasil pembahasan yang dibahas oleh kita. Oleh karenanya ini perlu dievaluasi, tinggal keputusannya kita mau terima atau tidak. Kan kemudian kita sudah dijustifikasi adanya uang siluman Rp 12,1 triliun ya kan, padahal tidak ada. Sekarang ketahuan jadinya. Tadinya gelap gulita terang benderang sekarang. Jadi tinggal kita lihat saja apakah teman-teman menerima dengan kesadarannya atau memaafkan Pak Ahok karena sudah memfitnah atau dia mempertahankan jati dirinya karena kita sudah dipermalukan".

Kemarin pembahasan antara DPRD dengan Pemprov DKI Jakarta juga tidak ketemu bahkan Anda dan Pak Edi Prasetyo sepertinya menyentil beberapa pejabat di Pemprov DKI Jakarta misalnya Pak Lasro Marbun. Kenapa jadi begitu pembahasannya?

"Iya karena waktu kita lagi ngomong dia ketawa cekakak-cekikik. Saya bilang “Pak Lasro jangan ketawa sedangkan saya lagi mengkritisi uang Rp 3 miliar per kelurahan dikali 267. Terus uang operasional walikota Rp 3 miliar satu tahun ini kan tidak pernah kita bahas kok ada. Terus Giant Sea Wall itu hampir Rp 400 miliar kemudian itu kita tidak setuju kok ada lagi sampai Rp 200 miliar kan kita tidak setuju, kalau kita tidak setuju kenapa dianggarkan lagi. Berarti bukan yang kita bahas."

Lantas dievaluasi ini apa? 

"Begini. Kemarin kan penjelasan dari mereka, kita menanggapi hari ini kita evaluasi kemudian baru kita pususkan kita mau terima barang yang begitu apa tidak."

Sepertinya menolak ya dari DPRD melihat hasil rapat kemarin? 

"Bukan ini kan masih dinamis cara berpikirnya. Seperti PPP sudah jelas tidak mau karena itu bukan yang dibahas. Kan sekarang kita mau menggunakan Undang-undang apa sewenang-wenang, saya tanya Anda menggunakan Undang-undang pasti kan iya bukan yang sewenang-wenang."

Anda menilai bahwa SKPD sebaiknya jangan takut terhadap gubernur. Anda melihat SKPD dipaksa oleh Pak Ahok agar tidak memasukan anggaran hasil evaluasi dengan DPRD. Buktinya dari mana?

"Pokoknya kalau saya begini, jangan jalan gelap yang kau tempuh begitu saja. Jangan itu yang kau pilih harus terang benderang". 

Bagaimana dengan akhirnya seteru DPRD dengan pemprov? 

"Jangan dibilang perseteruan". 

Tapi publik menangkapnya seperti itu bagaimana? 

"Iya itu kan publik biarin aja. Makanya kita mencoba menyelesaikan persoalan ini dimana sebenarnya persoalan ini, didudukan nantinya. Apakah kita mau bicara tetap kepada Undang-undang atau kesewenang-wenangan. Selama ini kan kesewenang-wenangan. Jadi gubernur menunjukkan persoalan e-budgeting-nya terus mengabaikan proses Undang-undang. Kita juga apresiasi dengan yang namanya e-budgeting karena itu akuntabilitas, alat kontrol, transparan, mengurangi SILPA, dapat dikontrol oleh masyarakat. Kemudian jangan mengabaikan proses daripada Undang-undang itu sendiri dan hasil pembahasan itulah yang harus kita bahas atau kita sampaikan ke Kementerian Dalam Negeri". 

Kalau Anda sendiri dengan Pak Ahok bagaimana? 

"Saya tidak ada apa-apa sama beliau. Saya cuma mengingatkan ngomongnya jangan sembarangan, dia pejabat publik, dia punya generasi muda. Dia harus ikut mencerdaskan bangsa dalam segi apa pun terutama dalam segi komunikasi, berbahasa, tata cara sopan santun, etika dan norma. Harus menjaga stabilitas politik, tahu tidak stabilitas politik? Undang-undang, tahu tidak etika dan norma? Undang-undang. Kalau etika dan norma tidak dijalankan nanti stabilitas politik terganggu, stabilitas politik itu keamanan, kenyamanan, ketenteraman, ekonomi, sosial, budaya."

Itu semua dilanggar Pak Ahok?

"Hari ini ternyata bahwa stabilitas politik terganggu, keamanan terganggu, ketenteraman dan kenyamanan terganggu. Ekonomi terganggu dengan Rp 73 triliun belum cair-cair itu kan terganggu."

Terkait dengan media sosial Anda sekarang aktif. Kenapa Anda akhirnya membuka akun Twitter? apakah itu cara bagaimana komunikasi dengan publik?

"Teman-teman kan tahu kalau di akun Twitter kemarin tuh banyak hal-hal yang memberitakan saya. Artinya buat kalimat-kalimat, meme-memean. Terus saya disampaikan kepada teman “Pak Haji Lulung ini ada akun Twitter sehingga nama Anda jadi populer,” saya masih diam saya bilang sama teman “jangan sampaikan itu kepada saya karena saya lagi berjuang, saya mau pakai kacamata kuda untuk berjuang menegakan kebenaran.” Kemudian pagi harinya dikatakan “Pak Haji Lulung Anda terpopuler lho, trending topic di tiga besar dunia,” saya bilang “apaan sih.” Akhirnya coba kita baca dan segala macam, terus sepakat kita diskusi kita punya akun Twitter saya @halus24."

Apa artinya @halus24 itu? 

"Halus ini branding saya sejak tahun 2000 lalu. Halus ini ‘Haji Lulung Untuk Semua’ karena saya sudah mempelajari dan sering membaca tentang perubahan Undang-undang Dasar bahwa demokrasi ini sudah selesai. Artinya setiap warga negara punya hak yang sama dalam kepemerintahan sudah tidak ada sekat, tidak ada kulit putih kulit kuning, mata sipit mata belo, rambut keriting rambut lurus kalau dia warga negara Indonesia dia sudah boleh jadi pimpinan di negeri ini". 

Di Twitter Anda merasa ada yang menyerang?

"Jangan salah pemahaman. Teman-teman itu melihat saya pada perspektif saya disudutkan tidak. Bayangkan mana sarana teman-teman untuk melakukan hal-hal berkomunikasi akun sosial seperti meme, ejek-ejekan tidak ada kan sarananya cuma di Twitter atau Facebook". 

Anda tidak masalah?

"Kalau saya menanggapinya pertama saya apresiasi. Karena itu kreativitas, karena kreativitas itu kreator-kreator muda-mudi. Dengan itu menimbulkan efeknya menjadi seni, oleh karenanya secara langsung dan tidak langsung saya menjadi tokoh komedi seni politik. Secara tidak langsung saya menjadi tokoh komedi politik karena pesan akun sosial itu adalah lucu-lucuan, singgung-singgungan, dan sangat dinamis. Kemudian punya efek kreativitas itu efeknya ke ekonomi. 

Bagaimana mungkin kalau kita tidak berikan apresiasi tentang kreativitas itu mempunyai efek yang banyak dari efek seni, memunculkan kreator-kreator muda. Terus mempunyai efek ekonomi ada gantungan kunci Haji Lulung, kaos-kaos yang dijual itu kan menguntungkan orang lain. 

Terus bagaimana dengan Kaka Slank itu mengkritik saya juga. Artinya kawan buat saya saudara, kritik itu untuk saya adalah sebuah energi dan semangat saya untuk berjuang. Kemudian hal-hal yang menyangkut kritik di Slank itu saya apresiasi tapi kemudian memang persoalan yang namanya Haji Lulung berbahaya itu yang perlu diklarifikasi. Tapi sampai hari ini Kaka Slank tidak mau minta maaf saya sudah memaafkan. Ya sudah kalau Kaka Slank tidak mau minta maaf saya tidak persoalkan semoga Allah SWT memaafkan dia".

Editor: Antonius Eko  

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Rendahnya Serapan APBN hingga Penghujung 2022

Most Popular / Trending