Bagikan:

Malaysia Masih Tutup, NTB Kirim Pekerja ke Perkebunan Sawit di Kalimantan

"Untuk sementara ini, sudah ada 800 tenaga kerja asal NTB yang ditempatkan di perkebunan sawit Kalimantan dari kuota sekitar 2 ribu orang,"

NUSANTARA

Jumat, 25 Feb 2022 14:48 WIB

Malaysia Masih Tutup, NTB Kirim Pekerja ke Perkebunan Sawit di Kalimantan

ilustrasi pekerja perkebunan kelapa. (Foto: Antara/Anis Efizudin)

KBR, Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat memilih mengarahkan pekerja migran asal Lombok bekerja sebagai pekerja perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.

Hal itu dilakukan sembari menunggu kabar negosiasi penyelesaian kesepakatan (MoU) penempatan dan perlindungan pekerja migran Indonesia ke Malaysia.

"Sebab di sana (Kalimantan), perkebunan sawit membutuhkan tenaga yang terampil. Untuk sementara ini, sudah ada 800 tenaga kerja asal NTB yang ditempatkan di perkebunan sawit Kalimantan dari kuota sekitar 2 ribu orang," ungkap Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB, I Gede Putu Aryadi di Mataram, Jumat (25/2/2022).

Aryadi menjelaskan, dengan bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan, potensi pendapatan yang akan didapat pekerja asal Lombok ini bisa lebih tinggi.

"Karena perkebunan di Kalimantan menggunakan sistem borongan. Mereka yang rajin bekerja, tentu akan mendapatkan gaji yang lebih banyak," kata dia.

Berita lainnya:

Rata-rata penghasilan pekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan berkisar Rp5 hingga 10 juta per bulan. 

Saat ini, Malaysia masih tertutup untuk penempatan pekerja migran Indonesia. Hal ini terjadi karena belum adanya kesepakatan antara Indonesia dan Malaysia terkait penempatan pekerja migran. Kesepakatan tersebut terkait gaji dan perlindungan PMI.

"Jadi kita masih menunggu kebijakan Pemerintah Pusat. Artinya di kita belum membuka juga. Pada prinsipnya kita ingin mengedepankan keselamatan dan perlindungan (PMI) tersebut," pungkas Aryadi.

Editor: Kurniati Syahdan

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Berliku Warga Ibu Kota Dapatkan Udara Bersih