Cemari Sungai, Bupati Banyumas Hentikan Pembangunan Jalan Menuju Proyek PLTP

Proyek pembuatan jalan menuju pusat pengeboran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dihentikan karena menyebabkan sungai yang berhulu di kaki Gunung Slamet terdampak material pengeprasan bukit.

BERITA | NUSANTARA

Selasa, 17 Jan 2017 10:46 WIB

Author

Muhamad Ridlo Susanto

Cemari Sungai, Bupati Banyumas Hentikan Pembangunan Jalan Menuju Proyek PLTP

Warga memprotes pencemaran sungai akibat pembangunan jalan ke PLTP di Desa Karangtengah Cilongok Banyumas Jawa Tengah, Senin (16/1/2017). Warga membuat patung ikan sebagai simbol ikan-ikan mati karena


KBR, Banyumas – Bupati Banyumas Jawa Tengah, Achmad Husein meminta proyek pembuatan jalan menuju pusat pengeboran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dihentikan karena menyebabkan sungai yang berhulu di kaki Gunung Slamet terdampak material pengeprasan bukit.

Perintah penghentian itu dilakukan setelah Bupati Achmad Husein meninjau proyek pengerjaan jalan tersebut. Jalan itu dibangun menuju PLTP yang juga sedang dibangun di kawasan lereng selatan Gunung Slamet.

Saat dihubungi KBR, Bupati Achmad Husein mengatakan ia telah meminta PT Semesta Alam Industri (SAE) membangun instalasi untuk menanggulangi dampak lumpur yang mencemari sejumlah sungai di kecamatan Kabupaten Banyumas. Instalasi itu diantaranya kolam penampung lumpur (ponds), bendungan (dam), filter, dan manajemen pengerjaan proyek jalan tersebut.

Husein menyatakan, PT SAE baru boleh melanjutkan pengerjaan proyek jalan setelah seluruh instalasi penanggulangan dampak pembangunan jalan sudah tertangani. Namun, dia tak bisa memastikan berapa jumlah instalasi yang harus dibangun dan berapa lama waktu membangun instalasi tersebut. Menurut dia, hal itu akan dikontrol langsung oleh Dinas ESDM dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Banyumas.

Bupati Husein menjelaskan sejumlah sungai di tiga kecamatan terdampak proyek tersebut, yaitu Kecamatan Cilongok, Kecamatan Ajibarang dan Kecamatan Karanglewas. Tiga kecamatan ini memiliki sungai yang bermata air di Kaki Gunung Slamet yang berdekatan dengan pelaksanaan proyek.

"Kita sudah mengecek ke lapangan. Sebetulnya ini kewenangan provinsi, dan juga ini bukan proyek kabupaten melainkan dari pusat. Cuma kita menerima akibatnya. Saya sudah datang ke sana dan sudah stop semua kegiatan. Kegiatan yang sekarang ini untuk mengendalikan kekeruhan (sungai) saja, fokus di situ. Ini mereka sudah sedang berusaha mengurangi kekeruhan. Ya sudah (proyek dihentikan). Mereka saat ini sedang memperbaiki aliran sungai agar tidak keruh," kata Achmad Husein kepada KBR, Senin (16/1/2017) sore.

Husein mengatakan saat ini belum ditemukan material berbahaya lain selain lumpur yang turut terbawa aliran air. Namun ia menyebutkan tercemarnya aliran air sungai oleh lumpur tersebut menyebabkan masyarakat merugi, terutama di sektor ekonomi, seperti perikanan. Husein mengaku menerima laporan banyak ikan mati di kolam milik petani di Kecamatan Cilongok.

Kerugian lainnya, kawasan Curug Cipendok yang merupakan destinasi wisata di Kecamatan Cilongok juga dalam keadaan kotor dan tidak layak dikunjungi. Belum lagi, masyarakat sekitar aliran sungai yang mengandalkan suplai air bersih dari sungai. Mereka tak bisa beraktivitas normal lantaran air keruh.

Achmad Husein menambahkan, untuk menghilangkan seluruh dampak lumpur yang terbawa aliran sungai itu dibutuhkan waktu. Sebab, bagian hulu sungai sudah dipenuhi lumpur yang akan terbawa aliran sungai ke arah hilir.

Baca: Presiden Jokowi: Baru 5 Persen Energi Panas Bumi yang Dimanfaatkan   

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Bekas Napi Koruptor Harus Jeda Lima Tahun Sebelum Maju di Pilkada