Bagikan:

Benih Cabai Ikutan Langka, Harga Naik 100 Persen

Satu ikat benih cabai yang biasanya seharga Rp3 ribu hingga Rp3,500 per ikat sekarang naik menjadi Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per ikat. Dalam setiap ikatan berisi antara 10 hingga 12 batang bibit cabai.

BERITA | NUSANTARA

Rabu, 18 Jan 2017 11:45 WIB

Benih Cabai Ikutan Langka, Harga Naik 100 Persen

Seorang pedagang bibit cabai di Cilacap Jawa Tengah. (Foto: Muh Ridlo Susanto/KBR)


KBR, Cilacap – Harga benih cabai di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah melonjak naik karena minimnya pasokan benih dari petani pembenih cabai, atau petani 'pengipuk'.

Salah satu pedagang benih di Pasar Tradisional Cinangsi Kecamatan Gandrumangu, Nanang Kosim mengatakan persediaaan benih di tingkat petani menipis. Sebab, daerah terbesar penghasil benih, yakni Tempel di Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap kerap direndam banjir.

Akibatnya, harga benih naik dua kali lipat dibanding biasanya. Satu ikat benih cabai yang biasanya seharga Rp3 ribu hingga Rp3,500 per ikat sekarang naik menjadi Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per ikat. Dalam setiap ikatan berisi antara 10 hingga 12 batang bibit cabai. Itu berarti, harga bibit saat ini berkisar Rp700 per batang.

Selain cabai, harga benih terong juga naik, meski tak setinggi bibit cabai. Harga benih terong naik sekitar 50 persen dari biasanya. Di hari-hari sebelumnya harga benih terong sebesar Rp3 ribu per ikat, namun kini menjadi Rp5 ribu per ikat.

Baca juga:


Nanang mengatakan, akhir-akhir ini banyak pengunjung pasar yang membeli benih cabai dan sayuran lainnya untuk ditanam di pekarangan atau pot. Hal itu dipengaruhi mahalnya harga cabai rawit merah yang kini masih bertengger di atas Rp100 ribu per kilogram, sehingga banyak yang ingin menanam.

"Itu kebetulan kemarin sering hujan, jadi banjir. Jadi petani ‘pengipuk’ istilahnya itu kan kebanjiran. Lahannya kebanjiran, jadi banyak yang mati. Jadinya benihnya semakin langka. Kita menjual ke petani langsung. Sekarang harganya Rp7000, kadang juga Rp6000 per batang. (Sebelumnya) kita bisa menjual Rp3000 per ikat. Kalau sekarang tidak bisa, permintaan tinggi juga, mungkin karena dampak harga cabai mahal juga kan," kata Nanang Kosim, di Cilacap, Rabu (18/1/2017).

Nanang Kosim mengakui, omzet harian benih cabai dan sayuran lainnya meningkat menyusul tingginya permintaan dari pembeli. Dia menyebut peningkatan omzetnya mencapai dua kali lipat dibanding hari biasa. Di hari biasa, omzet harian hanya berkisar Rp200 ribu-an, namun kini naik menjadi hampir Rp500 ribu per hari.

Salah satu petani pembenih asal Sindangkasih Kecamatan Karangpucung, Marsinah mengatakan kesulitan petani pembenih saat ini adalah karena curah hujan tinggi. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan benih cabai tak berkualitas bagus.

Penyakit yang sering muncul adalah daun keriting yang disebabkan rendaman air. Selain itu, ulat dan jamur juga kerap menyebabkan benih cabai mati. Marsinah terpaksa menjual benihnya saat masih berumur muda untuk memenuhi permintaan petani.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Memuja Idola Sampai Sebegitunya

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Most Popular / Trending