Bagikan:

Pemerintah Matangkan Skenario dan Skema "Booster" Vaksin Covid-19

"Saat ini pemerintah menyiapkan skenario, jadi setidaknya ini untuk tenaga kesehatan, lansia (lanjut usia) ini rencananya akan dibiayai oleh pemerintah"

BERITA | NASIONAL

Jumat, 24 Des 2021 16:40 WIB

Pemerintah Matangkan Skenario dan Skema

Pelaksanaan vaksinasi covid-19 di Mamuju, Sulawesi Barat, Rabu (22/12/21). (Foto: Antara/akbar tado)

KBR, Jakarta - Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 di Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menegaskan skenario pemerintah soal tiga kelompok priorias penerima vaksin ketiga atau suntikan penguat (booster). 

Skenario itu, kata Nadia, tengah direncanakan dan dimatangkan pemerintah. Rencananya, booster vaksin dimulai awal tahun depan.

"Saat ini pemerintah menyiapkan skenario, jadi setidaknya ini untuk tenaga kesehatan, lansia (lanjut usia) ini rencananya akan dibiayai oleh pemerintah. Satu lagi adalah penerima bantuan iuran (PBI) JKN. Nanti dipastikan ada melalui program pemerintah dan mandiri," katanya dalam diskusi daring, Jumat (24/12/2021).

Siti Nadia yang juga Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Kemenkes ini menjelaskan, ada 11 jenama atau merek vaksin yang berpotensi dijadikan booster di Indonesia.

"Ke-11 merek vaksin ini juga telah mendapatkan izin dan rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO)," katanya.

Baca: Penerima "Booster" Vaksin Bukan Nakes, Satgas Ingatkan Pengawasan

Sebelumnya, Kepala Badan POM, Penny Lukito mengatakan BPOM tengah melakukan penelitian penelitian terkait dosis booster vaksin. 

Booster, kata dia, dilakukan dengan jenis vaksin primer atau dua dosis pertamanya adalah CoronaVac, Sinovac serta AstraZeneca.

"Sementara vaksin booster akan menggunakan CoronaVac, AstraZeneca serta Pfizer. Sinopharm juga direncanakan ikut uji coba booster, dan sedang melakukan proses Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik," jelas Penny Lukito.

Editor: Kurniati Syahdan

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Komunitas Biboki Lestarikan Tenun Ikat Tradisional

Living Law, Apa Dampaknya Jika Masuk dalam RKUHP?

Kabar Baru Jam 10

Most Popular / Trending