Bagikan:

HIDUP USAI TEROR Season 2 : Tentang Bumi Syam dan Jerat ISIS di Dunia Maya (Part 2)

NASIONAL | RAGAM

Rabu, 22 Des 2021 19:18 WIB

HIDUP USAI TEROR Season 2 : Tentang Bumi Syam dan Jerat ISIS di Dunia Maya (Part 2)

Ilustrasi Hidup Usai Teror Season 2. (FOTO : KBR)

“Kita harus memanjat jembatan yang hancur, udah di bom. Harus menyebrangi sungai lagi sampai 2 kali yang mana salah satu perahunya ada yang bolong. Lalu ketika ingin masuk ke checkpoint Syrian Democratic Forces (SDF) kami sampai ditembakin 2 kali siang dan malam, padahal kami sudah mengangkat bendera putih,”

Kamu mendengarkan Hidup Usai Terror. Di Season ke 2 ini, KBR berkolaborasi dengan Ruangobrol.id. Kami menghadirkan kisah anak muda, bekas simpatisan ISIS dan returnee dari Suriah.

Dengarkan juga : Tentang Bumi Syam dan Jerat ISIS di Dunia Maya (Part 1)

Ini adalah bagian ke-2 cerita Dania. Pada bagian pertama kita mendengar cerita bagaimana Dania dan keluarganya menemukan kenyataan yang jauh dari bayangan ideal tentang masyarakat Islami. Di Suriah, mereka menyaksikan bagaimana ISIS membajak Islam. Lantas mereka menempuh upaya berliku untuk bisa kembali ke tanah air.

Sekembalinya di Indonesia pada 2017 lalu, Dania dan keluarganya mengikuti program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Sementara ayah dan paman-nya diadili karena bergabung dengan ISIS. Bagaimana Dania melihat pengalaman itu? Bagaimana dia memulai kembali kehidupannya yang hilang? Apa aktivitas yang ditekuninya saat ini? Inilah cerita Dania, bagian ke-2.

“Untuk keluar itu sangat-sangat sulit daripada ketika masuk. Namun beberapa hal yang pengen gue bahas, bahwa dibalik keburukan-keburukan, kesedihan yang gue dapetin, itu gue merasa mendapatkan beberapa hikmah yang begitu besar dari Allah. Pertama, kami sering sekali berdiskusi, berkumpul. Ya sederhananya ngaji bareng kaya anak-anak TPA gitu. Kita diskusi banyak hal dari A-Z, masalah agama kita omongin, masalah politik, masalah kehidupan yang remeh temeh pun kita omongin. Sehingga disitulah, temen-temen gue tuh juga sampe bilang, ‘finally you dulu malah ngedapetin keluarga disana’ gitu lho. Kita juga jadi lebih kompak istilahnya.


Gue ngerasa banget gitu kan, emang bener-bener feeling regret dan gue dulu sempet merasa kayanya kita gak akan bisa balik karena saking sulitnya masalah bahasa, kami kan juga terbatas untuk mencari orang karena kami harus mencari jasa smuggler atau penyelundup untuk bisa kabur. Dan kami ditipu sampai 2 kali yang mana mereka mengambil harta benda berupa uang, handphone dan kami ditinggal begitu aja, ditipu. Dan itulah yang membuat kami lama, memang kami di wilayah mereka itu 1 tahun 10 bulan, tapi hampir 1 tahun itu kami mencari jalan untuk keluar.

Sampai Allah mendatangkan seorang kakek menolong kami dan dia mematok harga 4000 dollar untuk 17 orang. Karena gue dapet kabar kalo smuggler yang lain itu mematok harga 1 orang itu 1000 dollar. Alhamdulillah dan proses yang sangat panjang kita harus memanjat jembatan yang hancur udah dibom, yang mana di bawahnya itu udah besi-besi tajam reruntuhan. Harus nyebrangin sungai lagi sampai 2 kali, yang mana salah satu perahunya ada yang bolong diisi dengan 7 orang yang cukup besar orang-orangnya. Lalu kami ketika ingin masuk ke checkpoint musuhnya mereka, musuh kelompok ini, yang bersekutu dengan Amerika atau disebutnya SDF (Syrian Democratic Forces) kami sampai ditembaki 2 kali siang dan malam. Padahal kami sudah mengangkat bendera putih. Yang tadinya akhirnya gue tuh kaya impossible lah untuk keluar dari sana. Gue sempat hampir nyerah, hampir putus asa tapi kita keluarga alhamdulillah saling menguatkan satu sama lain, saling mengingatkan harus usaha gak boleh nyerah.

Akhirnya di Juni 2017, itu kami berhasil keluar dari wilayah kekuasaan kelompok Teroris di Syria atau khilafah ini di Syria. Masuk ke wilayahnya SDF (Syrian Democratic Forces) dan itu ujiannya terus aja. Ada yang kami yang perempuan dan anak-anak harus masuk ke camp pengungsian milik UNHCR dan yang laki-laki harus masuk penjara mereka. Kita terpisah dalam kurun waktu 2 bulan, tanpa kabar kondisi yang sulit lah pokoknya. Tapi alhamdulillah selalu aja pasti Allah ngasih hikmah ke kita, yang mana ketika di camp pun kami masih ketemu orang-orang baik yang selalu support kita, nge-bantu juga. Saling sharing, ada temen, sampai akhirnya viral di berita waktu itu karena emang banyak jurnalis yang datang,”

*Suara pembawa berita: 17 Warga Negara Indonesia melarikan diri dari Kelompok ISIS di Raka. Kini mereka tengah berada di Perkemahan Ainisa tempat bagi para pengungsi Syria- (fade out)

“Alhamdulillah atas pertolongan Allah kami dijemput oleh pemerintah Indonesia sekitar bulan Agustus 2017 dan itu melalui proses yang panjang juga. Kami harus melewati proses interogasi dulu oleh pihak intelijen dan polisi, sampai akhirnya 12 Agustus 2017 kami dapat menginjakkan kaki di bumi Indonesia. Gue suka banget menyebut ini sebagai Hari Kemerdekaan gue juga, Hari Kemerdekaan yang ke-dua buat gue dan keluarga. Gue selalu ngingetin diri sendiri juga bahwa inilah akibat ketika dulu itu ga mau meriksa atau ga mau crosscheck setiap berita yang dateng. Gue selalu diingetin juga oleh keluarga bahwa Allah sendiri bilang di Al-Hujurat ayat 6 kan bahwa kita harus selalu crosscheck berita dari suatu kaum agar kita tidak membinasakan suatu kaum karena kebodohan kita. Ini juga akibat dari tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, seperti di awal ayah gue ngasih pendapat (tapi) gue gak mau dengerin. Ini juga akibat karena gue dulu ga mau mencari second opinion yang lebih kritis lagi, kurang baca buku.

Point yang terpenting itu juga kita harus meningkatkan critical thinking kita, karena jujur aja gue ga kritis dulu. Yang istilah nya kalo bahasa anak muda nih, cinta buta. Ketika mungkin teman-teman cewek atau siapapun sedang falling in love with someone kita selalu ngeliat yang baiknya aja, yang bagusnya aja, padahal seluruh dunia udah bilang kalo dia itu jerk, dia itu jelek, tapi kita gak mau dengerin. Sampe akhirnya kita bersama dia atau kita ngeliat langsung dia tuh seperti apa, kita baru sadar kalo dia bener-bener jelek atau jerk gitu.

Gue berharap sih ya dari cerita yang panjang ini, semuanya bisa ngambil pelajaran dimana media sosial itu bagaikan pisau bermata dua. Ada yang baik, ada yang buruk. Jujur saja, kelompok-kelompok ekstrimisme ini pintar sekali mencari pasar di anak-anak muda, salah satunya media sosial. Yang mana anak-anak muda ketika itu mereka lagi proses pencarian jati diri, lagi mencari kebenaran dan juga semangatnya lagi membara. Ya mungkin ketika ada proses pertobatan mereka dapat pencerahan dari salah seorang, tapi ya salah gitu ya sehingga dia hanya ingin mendengarkan satu sumber aja sehingga perkataan atau second opinion atau pendapat orang lain tidak didengar. Jujur aja juga mereka kelompok ekstrimisme ini menggunakan dalil-dalil dari kitab suci, mengambil ayat-ayat, satu ayat saja lalu langsung didoktrin. Padahal based on my experience gitu ya, kita harusnya baca lagi ayat-ayat sebelumnya. Mereka ini hanya satu ayat udah lalu selesai, tapi tidak dibaca lagi ayat sebelumnya. Disitulah kenapa kita diajarkan untuk membaca atau belajar secara kaffah atau keseluruhan.

Alhamdulillah gue sekarang lagi mulai ngerintis bisnis, ya banyak sih mulai dari handicraft, itu buatan gue sendiri. Brand nya namanya ‘My Journey by Dania’. Gue juga jadi reseller keripik sodara-sodara gue, bisnis madu juga sama kakak gue dan menjadi salah satu kontributor utama di Ruangobrol.id sebagai penulis. Disitu gue sering sharing mengenai perdamaian, toleransi, radikalisme, ekstrimisme dan terorisme,”

Kamu baru saja mendengarkan kisah Dania, bekas returnee dari Suriah yang kini aktif menulis di Ruangobrol.id, platform media digital yang menyebarkan nilai-nilai perdamaian dan toleransi untuk mencegah radikalisme dan terorisme.

Kami ingin mendengar komentarmu atas cerita Dania. Kamu bisa mengirimkan melalui email di podcast@kbrprime.id atau DM kami di Instagram @kbr.id.

Di episode berikutnya akan hadir Febri yang memutuskan pergi ke Suriah untuk menyusul keluarganya. Harapannya adalah dia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya disana dan melanjutkan studi. Tapi, yang dihadapinya adalah tuntutan agar ikut berperang bersama ISIS. Sampai jumpa di episode selanjutnya Hidup Usai Teror Season 2, produksi KBR berkolaborasi dengan Ruangobrol.id.

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Berliku Warga Ibu Kota Dapatkan Udara Bersih