Bagikan:

Capai Net Zero Emission, Sektor Energi Bakal Makan Biaya Hingga Rp3,5 Triliun

"Sektor energi itu kontribusinya bisa menurunkan CO2 sekitar tiga per empat, yaitu 450 juta ton equivalent CO2. Biaya untuk menurunkan itu Rp3,5 triliun. Energi adalah sektor yang very expensive"

BERITA | NASIONAL

Selasa, 07 Des 2021 14:39 WIB

Author

Ranu Arasyki

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Antara/Astrid Faidlatur)

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Antara/Astrid Faidlatul Habibah)

KBR, Jakarta- Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, transisi energi untuk mencapai net zero emission pada 2060 membutuhkan biaya yang sangat besar. 

Menurut perhitungannya, untuk sektor energi saja diperkirakan memakan biaya hingga Rp3,5 triliun guna menurunkan 450 juta ton equivalent CO2.

"Namun, kalau sektor energi itu kontribusinya bisa menurunkan CO2 sekitar tiga per empat, yaitu 450 juta ton equivalent CO2, biaya untuk menurunkan itu Rp3.500 triliun. Energi adalah sektor yang very expensive and costly. Tapi dia sangat penting bagi rakyat, dan peranannya untuk menurunkan CO2 adalah the second largest in our economy," katanya pada acara Pertamina Energy Webinar, Selasa (7/12/2021).

Sri Mulyani berujar, transisi energi dari non renewable menjadi renewable energy bukan perkara gampang dan murah. Apalagi, Indonesia memiliki sumber daya alam fosil batubara yang masih melimpah dan dibutuhkan masyarakat. 

Dia mencontohkan, jika Indonesia memutuskan untuk menghentikan penggunaan non renewable energi seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan menggantikannya dengan EBT, maka dibutuhkan dana yang cukup besar untuk itu.

Baca Juga:

Belum lagi, lanjut Sri, untuk membangun proyek berbasis renewable energy seperti pembangunan geotermal dan energi hydro akan membutuhkan suntikan investasi yang sangat besar dengan risiko yang akan dihadapi.

"Misalnya, geothermal, hydro semuanya biasanya front end capital spending-nya gede sekali. Memang jangka panjang dampaknya sangat positif tapi membutuhkan front end capital spending yang besar. Dan juga kalau kita lihat masih ada elemen risiko, seperti geothermal eksplorasi tidak mendapatkan. Dan juga dari sisi tarifnya tidak bisa one linear. Jadi ini membutuhkan suatu pemikiran yang sangat detail mengenai bagaimana bisa kita membangun renewable, tetapi policy, risiko, pentarifan dalam jangka menengah panjang harus juga di desain. Inilah yang sedang kita desain dalam rangka energy transition mechanism yang mendukung untuk bisa men-deliver komitmennya Indonesia," kata Sri Mulyani.

Komitmen Indonesia untuk mencapai net zero emission pada 2060 bukanlah waktu yang panjang. Apalagi, katanya, Pertamina sebagai salah satu BUMN memiliki tanggung jawab yang besar untuk mentransformasi kegiatan bisnis dan perusahaan untuk menjadi pilar mencapai net zero emission.

Menurut Sri Mulyani, biaya yang relatif murah untuk menurunkan CO2 adalah dengan melaksanakan inisiasi Forestry and Land Use (FoLU). Menurut perhitungannya, FoLU mampu menurunkan 41 persen atau mencapai lebih dari 700 juta ton CO2 ekuivalen dengan biaya sekitar Rp90 triliun.

Dia mengatakan, semua negara memiliki kontribusi untuk menurunkan emisi CO2. Indonesia sudah menyampaikan komitmennya di dalam Nationally Determined Contributions untuk menurunkan 29 persen CO2 unconditional, dan 41 persen CO2 conditional pada 2060, atau lebih awal.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Subsidi dan Tata Kelola Pupuk Indonesia