Bagikan:

2022, BPJS Ketenagakerjaan Jaring Peserta dari Sektor Informal

"Tahun depan kita fokus kepada informal, dan ini tidak bisa kita raih dengan cara seperi sekarang. Harus menggunakan agen, harus kolaborasi. Pospay adalah satu cara kita memperluas dan potensinya"

BERITA | NASIONAL | KABAR BISNIS

Senin, 20 Des 2021 18:19 WIB

Author

Ranu Arasyki

2022, BPJS Ketenagakerjaan Jaring Peserta dari Sektor Informal

Ilustrasi. (Foto: bpjsketenagakerjaan.go.id/Domain Publik)

KBR, Jakarta - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan akan fokus menjaring kepesertaan para pekerja di sektor informal pada tahun depan.

Direktur Utama BPJS Anggoro Eko Cahyo mengatakan, upaya itu dilakukan mengingat sampai saat ini jumlah peserta di sektor informal BPJS Ketenagakerjaan masih rendah.

Oleh karena itu, BPJS ketenagakerjaan menggandeng PT Pos Indonesia (Persero) untuk menyediakan layanan iuran berbayar melalui agen Pospay. Langkah ini dilakukan untuk menyentuh pekerja hingga ke pelosok daerah.

Baca Juga:

"Tahun depan kita akan fokus kepada informal, dan ini tidak bisa kita raih dengan cara seperi sekarang. Harus menggunakan agen, harus kolaborasi. Pospay adalah satu cara kita memperluas dan potensinya juga sangat besar," katanya pada acara Kerja sama BPJS Ketenagakerjaan dan Pos Indonesia, Senin (20/12/2021).

Dia mengatakan, saat ini jumlah pekerja yang tersaftar di BPJS ketenagakerjaan mencapai 50 juta orang. Namun, jumlah peserta aktif yang melakukan pembayaran hanya 31,8 juta orang.

Sebanyak 31,8 juta peserta aktif itu, 29 juta di antaranya merupakan pekerja formal, sedangkan sisanya yakni tiga juta orang lebih berasal dari sektor informal.

Di penghujung tahun ini, klaim BPJS Ketenagakerjaan mencapai lebih dari Rp3 triliun yang berasal dari klaim 300 ribu peserta. Sementara, dalam sebulan, lanjut dia, BPJS Ketenagakerjaan menghimpun iuran mencapai lebih dari Rp6 triliun, atau Rp76 triliun dalam setahun.

Dalam lima tahun ke depan, Anggoro menargetkan untuk menjaring 65 persen kepesertaan atau naik dua kali lipat, baik yang berasal dari sektor formal maupun informal.

"Jadi kerja sama ini bisa sangat baik buat keduanya. Harapannya tentu saja, begitu pekerja mudah mendaftar, coverage makin lebar. Target kami dalam lima tahun ke depan menjadi 65 persen. Saat ini masih 33 persen, karena di Indonesia ini pekerja jumlahnya 98 juta, yang aktif baru 31,8 juta," imbuhnya.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Cek Fakta: Benarkah China akan Ambil Alih Kalimantan?

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17