Neraca Perdagangan Masih Defisit, Ini Kata Sri Mulyani

"Kita juga harus melihat berbagai komoditas yang pasarnya sensitif terhadap isu-isu non ekonomi, yang menjadi penghambat ekspor kita"

BERITA , NASIONAL

Senin, 17 Des 2018 15:41 WIB

Author

Astri Septiani

Neraca Perdagangan Masih Defisit, Ini Kata Sri Mulyani

Menteri Keuangan, Sri Mulyani. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merespon data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) soal neraca perdagangan yang defisit 2,05 miliar dolar Amerika pada November ini. 

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan defisit neraca perdagangan disebabkan sejumlah faktor. Dari luar, ada Tiongkok---salah satu negara tujuan ekspor Indonesia yang saat ini sedang menghadapi penyesuaian pertumbuhan ekonomi pascaperang dagang dengan Amerika. 

Sedangkan di dalam negeri, Menkeu menyebut pemerintah juga memperhatikan faktor penghambat ekspor.

"Kita juga harus melihat berbagai komoditas yang pasarnya sensitif terhadap isu-isu non ekonomi, yang menjadi penghambat ekspor kita. Sedangkan pasar-pasar baru, barangkali dalam kondisi ekonomi sekarang yang tendensinya melemah, jadi kemampuan menyerap ekspor terbatas. Kita harus hati-hati dalam mengelola external account," kata Sri Mulyani di Gedung Dhanapala, Kemenkeu Senin (17/12/2018).

Sri Mulyani menambahkan, pemerintah juga membantu medorong ekspor dengan kebijakan  insentif.

"Pemerintah harus memperhatikan kemampuan industri sektor migas dan non migas dalam negeri untuk menghasilkan substitusi," pungkasnya.

Data BPS menyebut sepanjang November 2018, neraca perdagangan Indonesia defisit 2,05 miliar dolar AS. Defisit terjadi terutama pada neraca impor migas. Defisit terjadi karena neraca ekspor sebesar 14,83 miliar dolar AS lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor sebesar 16,88 miliar dolar AS.

Baca:


Editor: Kurniati 

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Bagaimana Kinerja KPK Setelah Komisioner Kembalikan Mandat?

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10