Gabung Golkar, TGB: Sikap Moderat itu Penting, Sekarang atau ke Depan

Gubernur Nusa Tenggara Barat dua periode itu langsung menempati dua jabatan di DPP Partai Golkar.

BERITA , NASIONAL

Jumat, 21 Des 2018 09:12 WIB

Author

Heru Haetami

Gabung Golkar, TGB: Sikap Moderat itu Penting, Sekarang atau ke Depan

TGH Muhammad Zainul Majdi. (Foto: jpp.go.id)

KBR, Jakarta - Tuan Guru Muhammad Zainul Majdi atau dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB) resmi masuk Partai Golkar.

Gubernur Nusa Tenggara Barat dua periode itu langsung menempati dua jabatan di DPP, yaitu sebagai Ketua Koordinator Bidang Keumatan DPP Golkar, serta Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dari Parta Golkar.

Posisi ketua koordinator bidang keumatan merupakan struktur baru di DPP yang khusus dibuat setelah TGB bergabung dengan partai beringin itu.

Tuan Guru Bajang (TGB) mengatakan ia bergabung dengan Golkar lantaran partai ini memiliki nilai, sifat moderasi dan meritokrasi yang kokoh.

Bagi TGB, meritokrasi penting dan moderasi juga dinilai untuk mencari solusi pola berpikir yang tidak konfrontatif.

"Komunikasi sudah cukup lama, dan Partai Golkar adalah partai tengah yang kokoh pada nilai-nilai meritokrasi. Tentu kalau saya cermati, misalnya beberapa yang saya sampaikan bahwa moderasi atau sikap pertengahan itu penting betul, baik sekarang atau ke depan," kata TGB di Jakarta, Kamis (20/12/2018).

"Saya akan ikhtiarkan, tentu dengan arahan dari para tokoh Golkar. Ada Pak Ketum, Mas Agus (Gumiwang) dan semua sudah bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk Golkar dan juga untuk Indonesia, insyaallah," kata TGB.

Karir politik Tuan Guru Bajang (TGB) tercatat pernah menjadi anggota DPR dari Partai Bulan Bintang (PBB) periode 2004-2009.

Pada pemilihan kepala daerah 2008, TGB maju sebagai calon gubernur NTB dengan dukungan dari PBB dan PKS. Ia mengalahkan calon gubernur petahana, Lalu Serinata. Pada pemilihan gubernur berikutnya, ia merapat ke Partai Demokrat dan mempertahankan posisi gubernur untuk periode kedua.

Pada saat menjadi kader Partai Demokrat, ia menjadi sorotan kader lain karena sikapnya yang memilih mendukung Joko Widodo pada Pemilu Presiden 2019.

Keputusan Partai


Bergabungnya TGB ke Partai Golkar secara resmi disampaikan langsung Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto, dalam acara Silaturahmi Akhir Tahun Pengurus dan Anggota Partai.

Airlangga mengatakan rekrutmen TGB merupakan keputusan forum sesuai perundingan pada rapat internal partai.

"Kita ada chemistry. Dicari saat yang tepat, dan alhamdulillah menjelang akhir tahun... Kebetulan ada acara silaturahmi dengan para senior termasuk dengan Pak Jusuf Kalla. Kebetulan juga didahului oleh prosedur rapat internal Partai Golkar. Alhamdulillah, pleno menyambut keinginan bersama agar Pak Tuan Guru Bajang untuk segera bergabung," kata Airlangga di Jakarta, Kamis (20/12/2018).

Airlangga juga mengumumkan bahwa TGB pun akan mengemban jabatan sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu di Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden.

Meski TGB baru bergabung, Airlangga sangat yakin dengan rekam jejak yang dimiliki, tanpa harus butuh penyesuaian untuk mengemban amanat yang diberikan.

"TGB adalah tokoh yang sudah matang, jadi dengan demikian bisa langsung dengan Partai Golkar bisa langsung tancap gas tidak perlu penyesuaian lagi" ujar Airlangga

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.