Atasi Banjir di Jakarta, Jokowi Minta Normalisasi Kali Ciliwung Dikebut

"Ini salah satu cara untuk mengantisipasi banjir Jakarta yang dikerjakan di hulu. Tetapi memang harusnya di hulu berjalan, di hilir berjalan"

BERITA | NASIONAL

Rabu, 26 Des 2018 14:32 WIB

Author

Dian Kurniati

Atasi Banjir di Jakarta, Jokowi Minta Normalisasi Kali Ciliwung Dikebut

Pekerja menggunakan alat berat menyelesaikan pembangunan Bendungan Ciawi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mempercepat normalisasi Kali Ciliwung untuk mengatasi banjir di Jakarta.

Jokowi mengatakan pemerintah pusat akan mengatasi banjir dari hulu dengan membangun dua bendungan, yakni Bendungan Sukamahi dan Ciawi, yang diklaim mampu mengurangi banjir di Jakarta hingga 30 persen.

Namun, kata Jokowi, masalah pada hilir juga harus diselesaikan, utamanya normalisasi Kali Ciliwung dari sedimentasi (pendangkalan) atau pemanfaatan bantaran sungai secara liar.

"Ini salah satu cara untuk mengantisipasi banjir Jakarta yang dikerjakan di hulu. Tetapi memang harusnya di hulu berjalan, di hilir berjalan. Di hulu seperti pembangunan Waduk Sukamahi dan Ciawi.  Yang di hilir, banyak seperti Ciliwung, sodetan Ciliwung ke BKT," kata Jokowi di lokasi proyek Bendungan Sukamahi, Rabu (26/12/2018).

Jokowi mengatakan, Bendungan Sukamahi dan Ciawi akan rampung tahun depan.

Kedua bendungan memiliki daya tampung 8,13 juta meter kubik dan berfungsi menahan aliran permukaan yang berasal dari daerah hulu Gunung Gede dan Gunung Pangrango selama kurang lebih 4 jam, untuk kemudian mengalirkannya ke Sungai Ciliwung melalui terowongan.

Dengan demikian, jika terjadi hujan deras di Jakarta, masih ada peluang untuk mengalirkannya ke laut.  

Sebelum ada bendungan, debit air sebesar 56,52 meter kubik per detik pada saat hujan dan setelah ada bendungan, debit air bisa dikurangi menjadi 40 meter kubik per detik.

Jokowi mengatakan, pintu air Katulampa di Bogor Jawa Barat akan mampu menahan air beberapa jam, sehingga pengaliran debit air bisa secara perlahan saat hujan.

Selain kedua bendungan tersebut, kata Jokowi, pemerintah provinsi DKI Jakarta juga harus berusaha memperbaiki aliran sungainya serta menormalisasi Ciliwung agar lebarnya setidaknya 10 meter. Bahkan, kata Jokowi, beberapa titik Kali Ciliwung bisa diperlebar hingga 40 dan 60 meter.

Selain itu, kata Jokowi, Gubernur Anies juga harus menyelesaikan sudetan antara Ciliwung dan banjir kanal timur (BKT), membuat banyak sumur resapan, memperbaiki sistem drainase, serta membersihkan semua aliran sungai kecil dan bendungan di Jakarta. Sungai kecil atau bendungan itu di antaranya di Sunter, Pluit, Melati, dan Setiabudi.

Bahkan, kata Jokowi, pemerintah DKI Jakarta juga perlu membuat waduk baru. Semua upaya tersebut harus berjalan paralel, agar Jakarta bisa benar-benar terhindar dari banjir saat musim penghujan.

Presiden Joko Widodo juga memastikan proses pembebasan lahan proyek pembangkit bendungan Sukamahi dan Ciawi di Kabupaten Bogor, selesai di Januari 2019.

"Untuk perkembangan konstruksi di Sukamahi sudah 15 persen, di Ciawi sudah 9 persen. Pembebasan lahan sudah 50 persen dan insyaallah Januari sisanya bisa diselesaikan. Tinggal pembayaran. Tapi saya kira progresnya cukup baik," kata Jokowi.

Bendungan Sukamahi dan Ciawi tergolong bendungan tipe kering (dry dam), yang akan kering saat musim kemarau, dan baru terisi saat musim penghujan.  

Kontrak pembangunan Bendungan Ciawi diteken pada 23 November 2016 antara Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) dengan kontraktor PT Brantas Abipraya-Sacna KSO dengan nilai pekerjaan konstruksi Rp757,8 miliar melalui kontrak tahun jamak (multi years).

Bendungan itu akan menampung aliran Sungai Cisarua, Sungai Cibogo dan anak Sungai Ciliwung dengan volume tampungan 6,45 juta meter kubik.

Adapun pembangunan Bendungan Sukamahi, diteken pada 20 Desember 2016  dengan dengan kontraktor PT Wijaya Karya-Basuki KSO. Bendungan tersebut berdaya tampung 1,68 juta meter kubik senilai Rp436,97 miliar.

Editor: Kurniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Keluarkan Biaya Sendiri untuk Visum

Tantangan Dalam Reintegrasi Eks-Napiter dan Orang Yang Terpapar Paham Radikalisme

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14