Jasa Marga Belum Bisa Pastikan Soal Ganti Rugi Kemacetan

Sebelumnya, YLKI mengasumsikan setidaknya kerugian materiil yang harus dikeluarkan oleh setiap pengendara mobil mencapai Rp 150.000-Rp 200.000.

BERITA | NASIONAL

Senin, 28 Des 2015 11:20 WIB

Author

Sasmito

Jasa Marga Belum Bisa Pastikan Soal Ganti Rugi Kemacetan

Ilustrasi. Kemacetan di sepanjang jalur tol saat liburan natal. Foto: Antara

KBR, Jakarta, Jasa Marga menyatakan belum dapat memastikan bakal memberikan ganti rugi atau tidak terkait kemacetan di sepanjang jalur tol dalam dan luar kota saat liburan natal beberapa hari lalu. Juru bicara Jasa Marga, Wasta Gunadi mengatakan, pihaknya perlu membicarakan terlebih dahulu soal ganti rugi di pihak internal sebelum memutuskan hal tersebut. 

Sebelumnya, YLKI mengasumsikan setidaknya kerugian materiil yang harus dikeluarkan oleh setiap pengendara mobil mencapai Rp 150.000-Rp 200.000. Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, kerugian yang harus dibayarkan oleh setiap pengendara mobil pengguna tol tersebut berasal dari biaya tol, penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terbuang percuma di jalan, serta tambahan logistik. 

Tulus Abadi  menambahkan PT Jasa Marga dan Korps Lalu Lintas Polri bertanggung jawab atas kemacetan parah jelang Natal kemarin. Dua lembaga ini, bersama Kementerian Perhubungan gagal mengantisipasi lonjakan pengguna jalan. Itu sebab, kata dia, petinggi Jasa Marga dan Kepolisian Lalu Lintas perlu mengikuti langkah Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Djoko Sasono yang mundur dari jabatannya.

Sebelumnya, Djoko Sasono mengundurkan diri sebagai Dirjen Perhubungan Darat karena gagal mengurai kemacetan liburan Natal. Rencananya, Djoko menyampaikan surat pengunduran diri secara resmi ke Menteri Perhubungan Ignasius Jonan hari ini, Minggu, 27 Desember 2015. Surat itu juga akan ditembuskan ke Presiden Joko Widodo. 

Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN