DPR Papua: Kekerasan Cenderung Meningkat Setiap Akhir Tahun

Semisal konflik di Nduga, Papua, pada 2018, dan konflik di Intan Jaya, akhir 2019 lalu.

BERITA | NASIONAL

Senin, 30 Nov 2020 15:46 WIB

Author

Arjuna Pademme

DPR Papua: Kekerasan Cenderung Meningkat Setiap Akhir Tahun

Ilustrasi Peta Papua

KBR, Jakarta- Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua menyebut kekerasan di Papua meningkat setiap menjelang akhir tahun. Semisal konflik di Nduga, Papua, pada 2018, dan konflik di Intan Jaya, akhir 2019 lalu.

Wakil Ketua DPR Papua, Yulianus Rumbairusy mengatakan belum dapat menyimpulkan ada apa di balik rangkaian kekerasan di Papua setiap menjelang akhir tahun.

Dari berbagai kasus yang terjadi sebagian besar korban dari kasus kekerasan itu adalah warga sipil.

"Insiden-insiden yang terjadi dan terutama diakhir tahun, kita sendiri juga bingung kenapa bisa ada terjadi terus seperti begini. Sebenarnya ada apa di Papua ini. Selalu terjadi insiden seperti ini, penembakan dan penembakan dan yang korban warga sipil yang memang kampungnya di situ, hidupnya di situ. Mereka mau jalan kaki, mau ke mana lagi," kata Yulianus Rumbairusy, Senin (30/11/2020).

Yulianus Rumbairusy meminta pihak-pihak yang selama ini terlibat konflik mesti menahan diri.

Menurutnya, aparat keamanan maupun kelompok bersenjata jangan selalu mengedepankan penggunaan senjata. Sebab, itu akan berpotensi menyebabkan adanya korban dari kalangan sipil.

Sementara itu, kasus HAM terbaru tahun 2020 di Papua adalah ditembaknya Pendeta Yeremia Zanambani, Ketua Klasis Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Hitadipa di Intan Jaya, Sabtu (19/09).

Menurut narasumber yang diwawancara oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Pendeta Yeremia ditembak oleh aparat.

Namun pengakuan sebaliknya disampaikan oleh aparat, korban ditembak oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka.


Editor: Ardhi Rosyadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Pesan untuk Kapolri Baru terkait Catatan Pelanggaran HAM

Sudah Negatif Covid, Perlu Swab Ulang?

Kabar Baru Jam 8

Strategi Pengusaha Hotel dan Resto Merespons PPKM