Inspirasi Bisnis dari Eboni Watch

Strategi Eboni Watch bertahan di bisnis jam tangan kayu

Rabu, 26 Oktober 2022

KBR, Jakarta - Di tengah menjamurnya brand jam tangan pintar (smartwatch), ternyata jam tangan konvensional masih diminati. Ceruk pasar ini digarap oleh Afidha Fajar Adhitya dengan membuat brand Eboni Watch, pada 2014 yang berbasis di Klaten, Jawa Tengah.

"Filosofinya dari nama kayu Makassar Eboni, salah satu kayu terkuat di dunia. Nama itu diambil agar brand ini kuat, eksotik, banyak dicari orang. Kemudian, di bahasa Afrika, Eboni artinya indah dan cantik," kata pria lulusan UGM yang akrab disapa Fidha ini.

Eboni Watch bukan usaha pertama yang dibikin Fidha. Mulanya, ia tertarik melihat jam tangan kayu, tetapi kurang nyaman ketika dipakai pergelangan tangan Fidha kecil. Selain itu, harganya relatif mahal. Insting bisnis Fidha pun langsung bekerja, ia lantas mencari pinjaman modal ke saudara.

"Dari Rp2 juta itu tak tambahin uangku sendiri, aku pesen 12 pieces (pcs). Yang 2 laku ke Afrika Selatan, aku hargain Rp900 ribu, 1 aku pegang buat sampel, 9 pcs sisa aku balikin sebagai ganti modal. Jadi saudaraku itu yang ngejualin sendiri," kisah Fidha.

Sampai 2018, Eboni Watch tetap eksis tetapi progresnya landai di angka 20 sampai 50 jam tangan per bulan. Merasa stagnan, pria 32 tahun ini, ikut program inkubasi untuk industri kecil menengah dari Kementerian Perindustrian.

Fidha dan Eboni Watch terpilih bersama 24 peserta lain. Mereka diberi pelatihan intensif selama dua bulan di Jakarta dengan beragam materi, mulai dari manajemen operasional, keuangan, sampai bikin SOP. Ada juga sesi sama praktisi dan dapat pendampingan mentor selama setahun.

"Belajar dari nol, aku ngosongin pikiran banget di sana. Materi S1 bisnis dikompres dalam 2 bulan, meledak-meledak tuh kepala. Kami berdiri kan ga ada fondasi, saya sendiri, ga ada basic di dunia bisnis, marketing juga sedikit, memang suka aja jualan," tutur dia.

Baca juga: 

Inspirasi Bisnis dari Avocadron

Tren Merawat Kulit, Momen Bisnis Skincare Lokal Unjuk Gigi

Founder Eboni Watch, Afidha Fajar Adhitya membangun dari nol usaha jam tangan kayu bermodal pinjaman dari saudara. Kini tiap bulannya bisa menerima pesanan hingga 2 ribu buah. (FOTO: dok pribadi).

Dari pelatihan itu, Fidha jadi paham kesalahannya saat jualan jam tangan kayu. Eboni Watch terlalu mengedepankan sisi seninya, padahal konsumen terbanyak adalah kalangan muda terutama perempuan. Alhasil, Fidha mengubah strategi agar relevan sama pasar.

"Akhirnya produknya bikin yang kecil-kecil, yang warna-warni. Kontennya juga, kalau dulu pakai bahasa Inggris biar kelihatan keren, estetik. Akhirnya kita pakai bahasa yang receh, keseharian yang diksinya itu sesuai dengan market-nya. Akhirnya engagement naik, pembelinya juga naik," ucap Fidha.

Fidha juga menyasar kalangan menengah ke bawah sebagai target pasar Eboni Watch. Harga jam tangannya dibanderol relatif murah di kisaran Rp300 ribu- Rp600 ribu per buah.

"Harganya terjangkaulah, kita selalu menyajikan kualitas yang baik, dengan desain yang kalau dipakai di tangan kecil atau tangan besar itu fit, bagus. Sekarang konsumenku kebanyakan bukan orang kota malahan, kayak Karanganyar, Sragen yang memang biasanya jauh dari barang-barang kayak gini. Bahkan Papua, kita punya reseller," terang Fidha.

Dengarkan ceritanya langsung dari pemilik Eboni Watch, Afidha Fajar Adhitya di Uang Bicara yang bisa disimak KBR Prime, Spotify, Google Podcast, dan platform mendengarkan podcast lainnya.