Tantangan Anak Muda Indonesia versi Menko Polhukam

"Manakala para pemimpin kita tidak memberi keteladanan, tidak memberi tuntunan kepada anak muda. Misalnya kalau jadi politikus bersikap koruptif, suka menipu, suka berbohong."

BERITA | NASIONAL

Rabu, 30 Okt 2019 14:11 WIB

Author

Arie Nugraha

Tantangan Anak Muda Indonesia versi Menko Polhukam

Menko Polhukam Mahfud MD di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (23/10/2019). (Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak)

KBR, Bandung - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut ada pengaruh paham kelompok radikal ISIS di Indonesia.

Namun Mahfud berharap tewasnya salah seorang pemimpin ISIS yaitu Abu Bakar Al Baghdadi beberapa hari lalu bisa menekan atau menghilangkan pengikut paham tersebut di Indonesia. Terutama di kalangan anak muda.

Mahfud yakin tewasnya salah satu pimpinan kelompok radikal ISIS itu akan mengurangi tindakan kekerasan dan terorisme di Indonesia.

"Ancaman keutuhan Indonesia, ancaman terhadap teritori itu adalah kelompok separatis. Kemudian ancaman terhadap ideologi itu radikalisme di dalam pemikiran. Dua-duanya berbahaya. Maka saya mengadakan acara ini Pancasila Muda nama, acaranya bincang seru untuk memupuk kesiapan generasi muda para mahasiswa untuk menjiwai nilai-nilai kebersamaan sebagai bangsa dan kekokohan sebagai bangsa berdasarkan Pancasila," kata Mahfud usai acara 'Bincang Seru Mahfud Persatuan untuk Prestasi Bangsa di  Universitas Pajajaran, Bandung, Rabu, 30 Oktober 2019.

Mahfud mengatakan ada banyak cara agar generasi muda memahami pentingnya Pancasila sebagai benteng dari serangan radikalisme dan terorisme. Salah satunya, penyampaian nilai-nilai Pancasila dengan gaya kekinian namun bermaterikan akademis.

Mahfud mengingatkan, tantangan lain yang dihadapi anak muda Indonesia saat ini adalah tergerusnya nasionalisme di kalangan muda.

"Bisa disebabkan ketertarikan oleh dunia digital dictatorship. Manakala para pemimpin kita tidak memberi keteladanan, tidak memberi tuntunan kepada anak muda. Misalnya kalau jadi politikus bersikap koruptif, suka menipu, suka berbohong," ujar Mahfud.

Kondisi itu, kata Mahfud, menyebabkan banyak generasi muda kreatif yang ingin berwirausaha beralih ke luar negeri. Alasannya saat hendak meminta izin berusaha masih terkendala pungli, pemerasan, dipersulit oleh aparatur pemerintah.

Tidak heran, kata Mahfud, generasi muda kreatif lebih memilih mendirikan perusahaan di negara lain seperti Singapura. Sistem di negara itu lebih gampang dan tidak rumit karena berbasis digital.

"Enggak susah-susah, tapi untungnya banyak. Banyak di Indonesia ini bisnis yang berbasis startup, tapi listing-nya di Singapura. Karena kalau mau minta listing di Indonesia susah. Nah pemerintah harus memperbaiki itu," kata Mahfud.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Rencana Pembentukan Komponen Cadangan Militer Tuai Polemik