Belajar dari Bencana Palu, Mari Sediakan Ruang Aman di Rumah

Ruang tersebut dalam tiap rumah menjadi bagian dari mitgasi bencana yang masih harus terus disosialisasikan. Hal ini mengingat bencana gempa bukan hanya mengancam para masyarakat yang memiliki kondisi fisik yang normal, tapi juga para kelompok disabilitas

BERITA , NASIONAL

Jumat, 05 Okt 2018 20:55 WIB

Author

Yogi Ernes

Belajar dari Bencana Palu, Mari Sediakan Ruang Aman di Rumah

Gedung Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu yang rusak akibat gempa dan tsunami (Foto: ANTARA/M Hamzah)

KBR, Jakarta - Pekan lalu, tepatnya Jumat (28/9/2018) petang, gempa besar bermagnitudo 7,4 skala richter mengguncang Sulawesi Tengah dan diikuti gelombang tsunami berketinggian enam meter.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto menerangkan, hasil temuan lembaganya memastikan goncangan itu bersumber dari sesar Palu Koro. "Iya, itu disebabkan pergerakan sebagian segmen sesar Palu Koro. Sesar tersebut membentang dari teluk Palu sampai hampir ke teluk Bone," jelas Eko saat berbincang di program Ruang Publik KBR, Kamis (4/10/2018).

Eko yang merupakan Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI ini menjelaskan, secara umum gempa disebabkan oleh dua hal. Yakni yang dikenal dengan istilah gempa vulkanik dan tektonik.

"Gempa vulkanik itu seperti namanya, disebabkan oleh aktivitas gunung berapi. Gerakan lava menuju permukaan menyebabkan permukaan bumi bergetar sehingga kita merasakan gempa," papar Eko.

"Untuk gempa tektonik sendiri dipicu oleh aktivitas pergeseran retakan, kita sebut sebagai sesar, di mana posisinya ada di permukaan bumi. Jika retakannya terjadi di bawah laut, maka bisa memicu gempa yang baik guncangannya dan pergerakan patahannya bisa menyebabkan tsunami," sambungnya lagi.

Eko melanjutkan, gempa yang disebabkan letusan gunung api kerap menghasilkan kekuatan dengan skala yang cukup kecil. Berkisar antara dua hingga tiga magnitudo.

Secara umum, gempa dengan skala kekuatan di bawah enam magnitudo menghasilkan retakan yang takkan sampai ke permukaan. JIka terjadi fenomena ini, biasanya masyarakat tidak bisa melihat retakan pemicu gempa membekas di permukaan tanah. "Jadi semakin panjang bidang yang bergeser, dia menyimpan potensi untuk menghasilkan gempa yang berkekuatan besar," kata dia.

Belajar dari serangkaian bencana yang menerpa sejumlah daerah, menurutnya pemerintah perlu merancang sistem mitigasi bencana yang lebih baik. Salah satunya seperti, mulai menyosialisasikan perlunya membuat ruang aman di tiap rumah warga.

"Ruang aman ini bisa merupakan ruangan tersendiri yang dirancang sebagai tempat berlindung dari gempa, atau ruangan yang sudah ada di dalam rumah namun diperkuat lagi hingga bisa menjadi tempat yang tidak runtuh akibat gempa."

Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI ini menambahkan, ruang aman tersebut cukup seukuran kamar mandi. Di mana konstruksi bangunan berupa beton. Atau juga ruang aman itu sekadar meja-meja makan yang kakinya diperkuat.

"Jadi kita bisa berlindung di bawahnya selama guncangan gempa," sambung Eko lagi.

Ruang aman di setiap rumah itu bakal jadi bagian dari mitgasi bencana yang masih harus terus dikenalkan ke masyarakat. Mengingat, gempa bisa mengancam siapa saja. Baik untuk warga tanpa kebutuhan khusus maupun kelompok disabilitas.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Pengelolaan Sisa Anggaran Lebih Kembali Disorot

Kabar Baru Jam 15

Bagaimana Pengaturan Sistem Zonasi? Apa Manfaatnya?

Kabar Baru Jam 14