Bagikan:

WHO Sebut Tingkat Resistensi Antibiotik di Indonesia Tinggi

Jumlah kematian akibat resistensi antibiotik di Indonesia capai 1,2 juta orang

NASIONAL

Selasa, 13 Sep 2022 18:29 WIB

WHO Sebut Tingkat Resistensi Antibiotik di Indonesia Tinggi

Ilustrasi obat-obatan

KBR, Jakarta- Indonesia diprediksi menjadi salah satu negara dengan tingkat resistensi terhadap antibiotik atau Antimicrobial Resistance (AMR) tingkat tinggi pada masyarakat. Fakta itu disampaikan Perwakilan Badan Kesehatan Dunia atau WHO di Indonesia, Herfina.

Menurutnya, penggunaan antibiotik yang tidak sesuai anjuran banyak terjadi di layanan primer. Seperti, dokter praktik umum dan puskesmas.

"Karena biasanya di layanan primer ini kurang didukung oleh sarana diagnosis yang baik, sehingga pemberian obat-obatannya tidak bisa presisi dan pemberian obat yang kadang-kadang untuk coba-coba atau tidak presisi ini ketika menggunakan antibiotik dikhawatirkan bisa menyebabkan AMR," ujar Herfina dalam Webinar dalam Rangka Memperingati Hari Keselamatan Pasien Nasional & Hari Keselamatan Pasien Sedunia, Selasa (13/09/2022).

Resistensi Antibiotik adalah tidak efektifnya antibiotik untuk membunuh kuman penyebab penyakit, karena telah bermutasi. Hal ini terjadi lantaran pasien tidak meminum antibiotik hingga habis sesuai anjuran dokter.

Perwakilan WHO di Indonesia, Herfina juga turut menyoroti perilaku pasien di Indonesia yang kerap membeli obat-obatan secara bebas tanpa resep dokter. Padahal, ketidaksesuaian penggunaan antibiotik bisa menyebabkan resistensi tersebut.

Selain itu, menurut Herfina, penggunaan antibiotik pada hewan oleh peternak untuk menghasilkan daging berkualitas dan bebas penyakit juga tidak tepat. Sebab, pemberian antibiotik berlebihan bisa berefek pada manusia sebagai pengonsumsi dan menyebabkan Resistensi Antibiotik.

"Jika sudah terjadi AMR, maka infeksi yang tadinya bisa ditangani singkat diberi antibiotik sembuh tapi ini lebih panjang atau justru tidak bisa diobati dan ini juga menyebabkan keparahan penyakitnya atau bahkan menyebabkan kematian," tuturnya.

Baca juga:

Kemenkes Gencarkan Skrining Hipotiroid Kongenital Pada Bayi

Dukung Kemenkes, Viamo Luncurkan Layanan Informasi Kesehatan Tanya321

Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut, resistensi antibiotik pada tubuh seseorang yang diakibatkan oleh mikroba atau antimicrobial resistance dapat menjadi silent pandemic. Pasalnya, jumlah kematian akibat AMR di Indonesia telah mencapai 1,2 juta orang.

"Silent pandemic harus diantisipasi dengan mengatur penggunaan antibiotik yang lebih rasional, sehingga kematian dapat lebih diminimalisir," ujar Dante.

Dikutip dari laman kemenkes.go.id, penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang kebal terhadap pengobatan mengakibatkan bertambah lamanya seseorang menderita suatu penyakit, meningkatnya resiko kematian dan semakin lamanya masa rawat inap di Rumah Sakit.

Ketika pengobatan menjadi lambat bahkan gagal, pasien dapat menjadi inang bakteri (carrier). Hal inilah yang memungkinkan resistensi antibiotik terjadi pada lebih banyak orang.

Editor: Dwi Reinjani

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Upaya Polri Meningkatkan Kembali Kepercayaan Publik

Most Popular / Trending