Bagikan:

Upaya Pemerintah Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik

"Kita targetkan nanti di 2025, 2 juta kendaraan listrik bisa digunakan oleh masyarakat kita Indonesia dan selanjutnya kita akan menuju ke pasar-pasar ekspor."

NASIONAL

Jumat, 16 Sep 2022 13:42 WIB

kendaraan listrik

Warga mengisi daya motor listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Mataram, NTB, Kamis (11/8/2022). (Foto: ANTARA/Ahmad Subaidi)

KBR, Jakarta - Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk beralih dari energi fosil ke energi baru terbarukan. Termasuk dengan menggenjot penggunaan kendaraan listrik.

Presiden Joko Widodo mengatakan, upaya ini termasuk salah satu strategi pemerintah menuju target net zero emission atau nol emisi karbodioksida pada 2060. Jokowi pun berharap Indonesia bisa merajai industri kendaraan listrik.

"Betul-betul mampu merajai menjadi produsen dari kendaraan listrik. Dan kita targetkan nanti di 2025, 2 juta kendaraan listrik bisa digunakan oleh masyarakat kita Indonesia dan selanjutnya kita akan menuju ke pasar-pasar ekspor, " kata dia saat peluncuran ekosistem kendaraan listrik Selasa (22/2/2022).

Baca juga:

Presiden Jokowi mengatakan terus mengupayakan pembangunan pabrik baterai untuk kendaraan listrik dalam kapasitas besar.

Ia juga berharap ada peningkatan kapasitas produksi kendaraan listrik melalui kerja sama dengan perusahaan dari luar negeri.

Salah satu kekuatan besar Indonesia adalah ketersediaan hasil tambang yang melimpah mulai nikel hingga kobalt yang merupakan bahan baku pembuatan baterai kendaraan listrik. Ini yang diandalkan Jokowi.

"Mulai dari penambangan nikel, kemudian smelternya, refinery-nya, kemudian pembangunan industri katoda dan prekursornya, kemudian masuk ke litium baterai, EV baterainya, baterai listriknya, kemudian mobilnya. Setelah mobilnya juga masih ada lagi tambahan, yaitu recycle baterai listriknya sehingga ini betul-betul dari hulu ke hilir semuanya dalam sebuah ekosistem besar yang ingin kita kerjakan," kata Jokowi, Rabu (8/6/2022).

Baca juga:

Selain itu, Jokowi menegaskan, sebagai salah satu negara penghasil bijih nikel terbesar di dunia, Indonesia berkembang pesat dalam industri besi dan baja.

"Dan saat ini Indonesia menjadi negara penghasil besi baja stainless terbesar nomor dua di dunia. Transformasi ini akan diikuti dengan barang-barang tambang seperti tembaga dan bauksit untuk aluminium yang akan menjadi tulang punggung industri energi baru dan terbarukan termasuk baterai lithium dan mobil listrik," kata Jokowi pada acara ASEAN-US Special Summit with Business Leaders, Jumat (13/5/2022).

Untuk menarik investor luar negeri, pemerintah obral janji untuk mempermudah seluruh perizinan dan pemberian insentif kepada calon investor.

Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah serius menyasar investasi berbasis hilirisasi.

"Tidak perlu datang ke Kementerian/lembaga. Nanti saya sendiri yang akan mengurus selama investasi itu serius. Tugas bapak dan ibu adalah cukup membawa teknologi, cukup membawa capital, dan sebagian pasar. Kita akan berkolaborasi, dan saya yakinkan bahwa Indonesia pada posisi strategis sebagai negara populasi terbesar di Asia Tenggara, jumlah populasinya kita 43 persen dan pendapatan kelas menengah kita semakin membaik," ujarnya dalam acara Grand Launching Proyek Investasi Berkelanjutan, Kamis (17/3/2022).

Bahlil mengatakan, beberapa realisasi investasi tersebut tengah berjalan, salah satunya pembuatan baterai kendaraan listrik.

Baca juga:

Maret lalu, perusahaan konsorsium asal Korea Selatan LG telah melakukan kerja sama dengan perusahaan BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC). Total investasi mencapai Rp142 triliun.

Kerja sama ini meliputi usaha tambang, smelter, prekursor ketot, batu baterai, hingga mobil listrik.

"Mobilnya kemarin kita sudah resmikan Hyundai, itu satu integrasi. Kemarin mobil listrik pertama di Asia Tenggara, dari Indonesia baru pertama. Jadi ini bukan baru akan nanti, tapi sudah kita lakukan. Untuk battery cell mulai akan berproduksi diperkirakan di 2023 akhir. CATL juga demikian melakukan hal yang sama," katanya.

Untuk menggenjot investasi, pemerintah akan melarang ekspor sejumlah komoditas mentah secara bertahap. Pada tahun ini, larangan ekspor bahan mentah bauksit akan tetap dilakukan. Selanjutnya akan disusul pelarangan ekspor produk komoditas lainnya.

Bahlil mengatakan langkah ini sebagai upaya mendorong bertumbuhnya produk hilirisasi dalam negeri. Dengan begitu, Indonesia bisa membangun industri baterai yang bisa menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Laporan Temuan Ombudsman soal Penanganan Bencana

Most Popular / Trending