KEK Tanjung Lesung, Belum Ada Fasilitas Darurat Bencana di Master Plan-nya

Meski urgensinya sudah ditekankan berbagai riset, fasilitas darurat bencana belum masuk ke dalam rencana pembangunan KEK Tanjung Lesung.

BERITA | NASIONAL | NUSANTARA

Jumat, 20 Sep 2019 14:10 WIB

Author

Adi Ahdiat

KEK Tanjung Lesung, Belum Ada Fasilitas Darurat Bencana di Master Plan-nya

Wilayah pesisir Banten, Jawa Barat, yang terdampak tsunami longsoran erupsi Gunung Krakatau Desember 2018. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Kementerian Pariwisata bersama Pemprov Banten, Pemkab Pandeglang, dan PT Banten West Java (BWJ) akan menggelar "Festival Pesona Tanjung Lesung" di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung pada 27-29 September 2019 mendatang.

Menurut PT BWJ selaku pengelola, festival ini bertujuan mempromosikan Tanjung Lesung ke kalangan wisatawan dan investor. 

Event ini tentunya akan mengundang banyak wisatawan datang ke Tanjung Lesung. Dengan begitu para investor akan melihat dan tertarik mengembangkan sarana akomodasinya, seperti theme park, dan sarana pendukung lainnya,” kata Dirut PT BWJ Poernomo Siswoprasetijo dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/9/2019).

Poernomo juga mengklaim investasi di KEK Tanjung Lesung semakin membaik dan terus berkembang.

“Sudah ada investor dari China, Jepang, dan Australia yang sangat tertarik mengembangkan pariwisata di Tanjung Lesung. Mereka melihat Tanjung Lesung memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan bersama-sama,” katanya lagi.


Tanjung Lesung Rawan Bencana

Kendati punya daya tarik wisata tinggi, KEK Tanjung Lesung merupakan daerah rawan bencana.

Baru Desember 2018 lalu Tanjung Lesung terkena tsunami akibat longsoran erupsi Gunung Krakatau, yang menghancurkan banyak bangunan serta memakan korban jiwa.

Dan bukan cuma sekali itu saja. Menurut riset Ferry Dwi Cahyadi dalam Prosiding Seminar Nasional Sejarah Bahari Banten (2019), "bencana Krakatau" itu sudah terjadi belasan kali.

"Berdasarkan penelusuran literatur dan data sekunder dari instansi terkait, diperoleh informasi bahwa terdapat 14 kali kejadian tsunami di kawasan Selat Sunda. Sumber bencana tsunami sebagian besar berasal dari erupsi Gunungapi Krakatau yang berada di tengah Selat Sunda," jelas Ferry dalam risetnya.

"Pembangunan di kawasan pesisir Banten berbasis mitigasi bencana tsunami perlu dilaksanakan, sebagai salah satu bentuk pengurangan risiko bencana tsunami," jelas Ferry lagi.

Peringatan serupa juga sudah disampaikan berbagai lembaga negara seperti Kementerian AgrariaKementerian PUPR, dan Badan Geologi ESDM.

Lembaga-lembaga tersebut memandang kebijakan pembangunan dan tata ruang di kawasan Selat Sunda, termasuk KEK Tanjung Lesung, harus dievaluasi demi menguatkan mitigasi dan kesiapan darurat bencana.


Belum Ada Fasilitas Darurat Bencana di Master Plan Tanjung Lesung

Meski urgensinya sudah ditekankan berbagai riset, fasilitas darurat bencana belum masuk ke dalam rencana pembangunan KEK Tanjung Lesung.

Dalam situs resmi Dewan KEK Nasional, Master Plan KEK Tanjung Lesung hanya berisi rencana pembangunan infrastruktur terkait pariwisata, seperti:

  • Perumahan
  • Hotel
  • Condominium
  • Restoran
  • Marina Village
  • Klub Yacht
  • Bandara Banten Selatan
  • Pembangkit Listrik, dll.

Padahal, Presiden Jokowi sudah menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh dilakukan di daerah rawan bencana.

"Kalau daerah-daerah yang rawan bencana, ya tolong diberitahukan, sampaikan ke daerah. Ini rawan gempa, lokasi ini rawan banjir, jangan dibangun bandara, jangan dibangun bendungan, jangan dibangun perumahan," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta (23/7/2019). 


Memadukan Pembangunan dan Mitigasi Bencana

Bencana alam memang tak bisa dihindari dan seringkali sulit diprediksi. Namun, risikonya bisa dibuat minimal dengan strategi dan kebijakan yang tepat.

Buktinya bisa dilihat di Jepang. Untuk meminimalisir korban jiwa akibat tsunami, pemerintah setempat membangun theme park darurat bencana, yakni Tokyo Rinkai Disaster Prevention Park.

Dalam situasi normal, taman seluas 13 hektare itu berfungsi sebagai wahana rekreasi dan pusat pendidikan simulasi bencana. Namun saat terjadi gempa atau tsunami, Tokyo Rinkai Park menjadi tempat berlindung warga.

Tokyo Rinkai punya aula tahan gempa yang bisa menampung ratusan orang, dilengkapi dengan logistik, perlengkapan medis, serta 7 buah helikopter penyelamat.

Model pembangunan sigap bencana itu tentu bisa dicontoh KEK Tanjung Lesung, supaya Tanjung Lesung bisa berkembang jadi kawasan investasi sekaligus destinasi wisata unggul di skala dunia.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 12

Ponpes Kebon Jambu Cirebon, Pencetak ‘Ulama Perempuan’

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Cina Berencana Melarang Teknologi Asing di Seluruh Kantor Pemerintahan dan Institusi Publik