covid-19

Menkes: Vaksin 'Booster' Diprioritaskan Untuk Nakes

"Kita harus prioritaskan nakes karena merekalah tentara kita yang bertempur sehari-hari,"

BERITA | NASIONAL

Senin, 02 Agus 2021 16:56 WIB

Author

Dwi Reinjani

Menkes: Vaksin 'Booster' Diprioritaskan Untuk Nakes

Menteri Kesehatan , Budi Gunadi Sadikin

KBR, Jakarta - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin meminta kepala dinas kesehatan di daerah untuk memprioritaskan pemberian vaksin Moderna, sebagai booster ke tenaga kesehatan (nakes).

Menurutnya, booster dilakukan untuk menambah kekebalan tenaga kesehatan, agar tidak mudah terpapar, di tengah meningkatnya kasus konfirmasi positif infeksi virus korona.

"Kita mendapatkan bantuan Moderna dari pemerintah Amerika, itu 4 juta dosis. Satu setengah juta dosis kita dedikasikan dulu pertama kali untuk seluruh nakes, sebagai single shot, satu suntikan booster ketiga. Dan tolong Bapak Ibu para nakes segera disuntikkan, para Dinkes segera disuntikan dan saya memohon dengan sangat, tolong jangan dialihkan ke non-nakes. Kita harus prioritaskan nakes karena merekalah tentara kita yang bertempur sehari-hari," katanya saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Senin (02/08/2021).

Budi Gunadi juga meminta kepada masyarakat, untuk tidak berebut mendapatkan vaksin booster, di tengah rendahnya capaian vaksinasi nasional, yaitu sekitar 70 juta jiwa, hingga awal Agustus ini.

Budi juga meminta masyarakat bersabar, dan tidak merebutkan vaksin Moderna yang diprioritaskan pemerintah untuk tenaga kesehatan dan masyarakat yang belum mendapatkan vaksinasi dosis pertama.

"Booster ketiga, vaksin ketiga, tolong berikan itu kepada tenaga kesehatan yang harus berjuang mati dan hidup dalam peperangan menghadapi pandemi ini. Dan tolong utamakan saudara-saudara kita 140 juta rakyat Indonesia yang belum mendapatkan akses terhadap vaksin," pintanya.

Sementara terkait efikasi vaksin Sinovac yang akan turun setelah enam bulan pasca pemberian lengkap, Budi Gunadi Sadikin belum belum bisa memastikan hal tersebut.

Pasalnya, kata Budi, kebenarannya baru bisa dibuktikan setelah uji klinis tahap tiga selesai, akhir tahun ini.

"Efikasi vaksin atau periode tahannya vaksin baru akan bisa keluar secara formal, sesudah selesainya final report uji klinis tiga, diperkirakan akan keluar sekitar akhir tahun ini. Untuk vaksin-vaksin yang pertama kali di-launch akhir tahun lalu, seingat saya yang pertama kali keluar itu Pfizer kemudian Astrazeneca, jadi final report uji klinis tiganya di kuartal empat tahun ini," jelasnya.

Budi memperkirakan hasil penelitian dari Cina terkait efikasi vaksin Sinovac itu mungkin saja tersebar sebelum penelitian selesai atau masih dalam keadaan embargo vaksin Sinovac.

Bekas Wakil Menteri BUMN ini juga meminta awak media, tidak menyebarluaskan informasi yang masih simpang siur tersebut. Selain itu, banyak spekulasi dan informasi yang membingungkan masyarakat di tengah pandemi saat ini.

"Media tolong jaga, jadi ini tugas kita bersama memastikan informasi yang keluar adalah informasi yang benar. Karena kita nggak ada bedanya dengan hoaks itu, kita tidak mau sampaikan bahwa semua analisa tulisan itu adalah tidak resmi, karena yang resmi baru bisa disimpulkan sesudah final report uji klinis 3, akhir tahun ini," tambahnya.


Editor: Kurniati Syahdan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Layanan Identitas Kependudukan bagi Kelompok Transpuan

Kabar Baru Jam 8

Seruan untuk Lindungi Nakes di Daerah Rawan

Kabar Baru Jam 10