OTT di 2 BUMN? Ini Penjelasan KPK

"Dari yang ditangani oleh pihak KPK biasanya pihak swasta dengan PN, transaksinya kali ini terjadi di dua BUMN."

BERITA , NASIONAL

Kamis, 01 Agus 2019 11:49 WIB

Author

Muthia Kusuma

OTT di  2 BUMN? Ini Penjelasan KPK

Ilustrasi

KBR, Jakarta- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Direksi PT Angkasa Pura II dan PT INTI Persero di Jakarta Selatan. Saat dikonfirmasi oleh wartawan terkait informasi yang menyebut pejabat PT Angkasa Pura yang dicokok KPK merupakan Direktur Keuangan Angkasa Pura II, Juru Bicara KPK, Febri Diansyah belum bisa menjawab spesifik.

Kata dia, Lembaga Antirasuah itu masih mendalami pemeriksaan, termasuk mengonfirmasi dugaan pemberian uang dari pihak-pihak yang ditangkap dalam perkara ini.

"Intinya dari kedua unsur tersebut. Dari pihak AP2, dan PT Inti karena memang dugaan transaksinya terkait dengan pihak-pihak yang ada di dua perusahaan BUMN itu. PT Inti mengerjakan proyek di AP2. Ini yang tentu akan kami dalami lebih lanjut. Dari yang ditangani oleh pihak KPK biasanya pihak swasta dengan PN, transaksinya kali ini terjadi di dua BUMN. Itu akan kami gali lebih lanjut dari proses pemeriksaan," ucap Febri pada Kamis, (1/8/2019) dini hari.

Penyidik KPK menangkap lima orang ke Gedung Merah Putih KPK. Mereka adalah jajaran direksi di BUMN Angkasa Pura II, kemudian ada pegawai dari BUMN yang lain, PT Inti Persero dan pihak-pihak lain yang terkait di lokasi. Orang-perorang diperiksa lebih lanjut di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan terkait dugaan transaksi terkait pekerjaan proyek atau yang sedang dilakukan di Angkasa Pura II.

Febri mengatakan akan ada konferensi pers terkait perkembangan status perkara serta status lima orang yang ditangkap KPK pada OTT itu. Sementara, KPK mencatat ada uang yang sudah disita dalam bentuk SGD $90 ribuan atau sebesar Rp 1 miliar.

Editor: Rony Sitanggang



  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945