BNPB Deteksi 482 Titik Panas di Wilayah Indonesia

Selain karena puncak musim kemarau, peningkatan titik panas ini juga disebabkan pembakaran lahan yang dilakukan oleh warga untuk menyiapkan musim tanam.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 17 Agus 2016 12:51 WIB

Author

Andi Muhammad Arief

BNPB Deteksi 482 Titik Panas di Wilayah Indonesia

Citra satelit Aqua and Terra memperlihatkan titik panas di Pulau Sumatera dan Malaysia (27/2/2016). Foto: bnpb.go.id



KBR, Jakarta- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendeteksi 482 titip panas di wilayah Indonesia. Wilayah dengan titik panas terbanyak ditemukan di Kalimantan Barat dengan jumlah 303 titik panas.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo P. Nugroho menjelaskan, selain karena puncak musim kemarau, peningkatan titik panas ini juga disebabkan pembakaran lahan yang dilakukan oleh warga untuk menyiapkan musim tanam pertanian dan perkebunan.

"Seiring dengan meningkatnya jumlah titik api, maka BNPB akan menambah 4 Helikopter Water Bombing yang ditempatkan di Jambi, 2 unit, dan Kalbar, 2 unit. (Di) Kalbar, memang tiga hari terakhir terjadi peningkatan titik api. Dan kalau kita lihat, memang (kebakaran terjadi) pada lahan-lahan yang dibakar untuk persiapan pertanian dan perkebunan," jelas Sutopo kepada KBR, Rabu (17/8/2016).

Saat ini, lanjut Sutopo, BNPB terus siaga bersama dengan Tim Satgas Gabungan. Sejauh ini kata dia BNPB telah mengerahkan 7 Helikopter Water Bombing, 2 Pesawat Water Bombing, dan 2 Pesawat Hujan Buatan yang ditempatkan di berbagai daerah untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"BNPB (juga) memberikan pada BPBD, TNI, (dan) Polri dana operasional adalam pemadaman hutan kali ini.”.

Sementara itu, BNPB juga mencatat sebanyak 75 titik panas di Riau. Menurutnya, Tim Satgas Gabungan telah melakukan usaha pemadaman karhutla dengan cara menjatuhkan 17,9 juta air dari helikopter dan pesawat water bombing.

"Untuk hujan buatan, 35 ton dan 61 ton garam sudah ditaburkan ke dalam awan-awan potensial di Riau dan Sumatera Selatan," pungkas Sutopo.

Editor: Malika 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun