Apindo: Stimulus PEN Lebih Banyak untuk BUMN, Belum Cukup Bantu Swasta

"Kita belum tahu bagaimana pemerintah mengantisipasi persoalan modal kerja ini.”

BERITA | NASIONAL

Rabu, 03 Jun 2020 19:00 WIB

Author

Heru Haetami

Apindo: Stimulus PEN Lebih Banyak untuk BUMN, Belum Cukup Bantu Swasta

Jajaran pertokoan yang tutup akibat PSBB di Bekasi, Jawa Barat (19/4/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menilai stimulus yang diberikan pemerintah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) belum cukup membantu pengusaha swasta.

Hariyadi menyebut, dari perencanaan anggaran PEN per 18 Mei 2020 yakni sebesar Rp641 triliun, yang diterima pihak swasta hanya Rp34,15 triliun. Ia menyayangkan bahwa bantuan pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi justru lebih banyak diberikan untuk perusahaan BUMN.

“Dari sekian triliun itu sebetulnya larinya kemana? Kalau kita lihat dari mayoritas yang ada ini lebih banyak memang untuk dukungan bansos, dukungan pajak, untuk insenstif PPh 21, pembebasan PPh 22 dan juga PPh 25 sebanyak Rp123,01 triliun. Masih ditambah lagi di belanja per sektoral itu adalah stimulus fiskal. Yang betul-betul lari ke dunia usaha sebetulnya itu instruksi di bunga kredit Rp34,15 triliun dan juga untuk penempatan dana pemerintah yang terkait dengan restrukturisasi kredit UMKM Rp87,59 triliun," kata Hariyadi, Senin (1/6/2020).

Hariyadi berharap mestinya stimulus diberikan untuk semua sektor usaha, tidak hanya industri BUMN saja. 

Selain itu, ia meminta agar stimulus modal kerja dari pemerintah diberikan ke perusahaan untuk jangka waktu 1 tahun, dan subsidi suku bunga disamakan dengan suku bunga Bank Indonesia yakni 4,5 persen.

“Dari semua itu yang paling berat sebetulnya modal kerja. Kita belum tahu bagaimana pemerintah mengantisipasi persoalan modal kerja ini,” katanya. 

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Bersih-bersih Mafia Hukum dari Hulu Sampai Hilir