1000 Lebih Bus Angkutan Mudik Tak Layak Beroperasi

Ketidaklayakan angkutan umum itu, menurut Juru Bicara Kementerian Perhubungan Hemi Pramurahajo beragam penyebabnya.

BERITA | NASIONAL

Sabtu, 18 Jun 2016 23:23 WIB

Author

Yudi Rachman

1000 Lebih Bus Angkutan Mudik Tak Layak Beroperasi

Petugas memeriksa kelengkapan teknis armada bus reguler dalam Operasi Laik Jalan di Terminal Tirtonadi, Solo, Jawa Tengah. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Kementerian Perhubungan mencatat, lebih dari 1000 bus dinyatakan belum siap beroperasi untuk melayani pemudik.

Ketidaklayakan angkutan umum itu, menurut Juru Bicara Kementerian Perhubungan Hemi Pramurahajo beragam penyebabnya. Mulai dari kondisi ban yang tak memenuhi syarat hingga speedometer yang tak berfungsi. Temuan ini didapat dari hasil pemeriksaan armada mudik di sejumlah pool perusahaan otobus.

"Rata-rata bannya gundul, lampu sign tidak hidup, kaca pecah, tidak ada alat pemecah kaca di pintu darurat, kemudian speedometer. Per tanggal 14 Juni, kalau sekarang mungkin sudah lebih dari 1000 bus yang mendapatkan peringatan," jelas Juru bicara Kementerian Perhubungan Hemi Pramurahajo kepada KBR, Sabtu (18/6/2016).

Hingga 14 Juni saja, kata Hemi, sekitar 85 persen dari total 951 kendaraan masih harus melalui sejumlah perbaikan agar layak beroperasi. "Cuma kalau kita bicara tanggal 14 Juni kemarin, itu ada 951 kendaraan, 814 kendaraan itu belum siap dioperasikan artinya perlu ada perbaikan untuk dioperasikan untuk mudik," imbuhnya.

Juru bicara Kementerian Perhubungan Hemi Pramuraharjo menambahkan, kementeriannya sudah memperingatkan perusahaan otobus untuk memperbaiki armadanya agar bisa digunakan untuk melayani pemudik. Kata dia, apabila peringatan tak digubris dan bus masih tetap beroperasi, maka Kemenhub tak segan merazia dan melarang kendaraan tersebut melanjutkan operasi. (ika)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Menyoal Program Restrukturisasi Jiwasraya

Kabar Baru Jam 8

Kapan Kekebalan Terbentuk Usai Vaksinasi Covid-19?

Kabar Baru Jam 10