Pemerintah Diminta Swasembada Benih, Sebelum Pangan

Hal ini dikatakan Pakar sekaligus Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Memen Surahman.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 04 Jun 2015 13:15 WIB

Author

Rafik Maeilana

Pemerintah Diminta Swasembada Benih, Sebelum Pangan

Pakar pertanian sekaligus Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanuan Bogor, Memen Surahman saat memberikan penjelasan terhadap benih. Foto: Rafik Maeilana KBR

KBR, Bogor - Pemerintah diminta melakukan swasembada benih sebelum menggalakkan swasembada pangan yang digencarkan Presiden Joko Widodo. Hal ini dikatakan pakar sekaligus Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Memen Surahman.

Menurutnya, saat ini petani di Indonesia masih banyak menggunakan bibit yang didatangkan dari luar, terutama bibit tanaman pangan. Dari data yang dimilikinya, pada tahun 2013 Indonesia masih mengimpor 12 ribu ton bibit padi hibrida dan 65 ribu ton bibit jagung hibrida.

"Kalau kita ingin swasembada pangan, maka kita harus lakukan swasembada benihnya. Rasanya ironis kalau kita bercita-cita swasembada pangan, tapi benihnya tidak tersedia. Jadi apa yang mau kita tanam jika benihnya tidak ada," katanya saat berbincang dengan KBR di Kampus IPB Baranangsiang, Kota Bogor, Kamis (4/6/2015).

Memen menjelaskan, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan swasembada benih di Indonesia. Pertama, melakukan swasembada benih di setiap provinsi di Indonesia, lalu swasembada benih di tingkat petani, perbaikan sistem perkelasan benih, pengujian benih menggunakan marka molekuler, perbaikam sistem penyediaan dan sertifikasi benih kedelai, subsidi out put yang menjamin keberhasilan pertanian dan status kesehatan benih menjadi standart dalam sertifikasi benih.

"Yang paling utama itu swasembada benih di tiap provinsi, karena tiap daerah lebih mengetahui karakter benih yang bisa tumbuh di wilayahnya. Selain itu, setiap provinsi sendiri telah memiliki balai benih sendiri," jelasnya.


Editor: Quinawaty Pasaribu

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Korea Utara Melarang Kedatangan Turis Mancanegara Demi Melindungi Penduduknya Dari Virus Corona