Bagikan:

BKPM: Indonesia akan Gandeng Swiss untuk Gasifikasi Batu Bara

Selama ini, Indonesia membutuhkan lebih dari Rp100 triliun untuk impor LPG sebanyak 6-7 juta ton per tahun. Gasifikasi batu bara atau DME nantinya dapat mengefisienkan dana impor tersebut.

NASIONAL

Selasa, 24 Mei 2022 22:11 WIB

gasifikasi batu bara

Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (14/5/2022). (Foto: ANTARA/Nova Wahyudi)

KBR, Semarang - Indonesia terus mendorong gasifikasi batu bara sebagai subtitusi impor LPG. Salah satu upaya pemerintah adalah bekerja sama dengan investor dari Swiss untuk mewujudkan gasifikasi batu bara dengan produk akhir Dimethyl Ether (DME), menggantikan LPG.

Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia mengatakan gasifikasi batu bara ini bertujuan untuk mengoptimalkan hilirisasi industri tambang, sekaligus menekan impor LPG Indonesia.

"Sekarang di Swiss ini juga kita akan ketemu sebentar dengan investor dari Swiss, dengan Dubes Muliaman untuk kita bahas tentang bagaimana membangun DME. Jadi batu bara low calorie kita, kalau kita bisa kelola, itu bisa menjadi subtitusi impor kita untuk DME, dan bisa menjadi gas juga,” ungkap Bahlil dalam kegiatan Press Briefing dalam rangka World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2022 di Davos, Swiss, Selasa (24/5/2022).

Selama ini, Indonesia membutuhkan lebih dari 100T rupiah untuk keperluan impor LPG sebanyak 6-7 juta ton per tahun. Gasifikasi batu bara atau DME nantinya dapat mengefisienkan dana impor tersebut hingga 4-5T rupiah.

Selain gasifikasi batu bara, Indonesia juga akan mendorong hilirisasi sektor pertambangan lainnya, seperti timah dan bauksit.

Baca juga:

Hilirisasi industri tambang

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia juga akan mendorong gasifikasi batu bara sebagai bagian dari agenda hilirisasi industri tambang.

Bahlil mengatakan produk akhir dari gasifikasi batu bara, yaitu dimethyl ether (DME) akan dijadikan sebagai pengganti gas LPG. Hal ini bertujuan untuk menekan impor LPG Indonesia yang selama ini membutuhkan dana hingga lebih dari 100T rupiah.

"Kita tahu LPG kita sekarang… impor kita itu 6-7 juta. Untuk impor LPG itu (butuh dana) Rp100 T lebih. Subsidinya itu bisa 70-80T,” kata Bahlil.

"Nah, kalau kita mampu meng-cover secara baik untuk subtitusi impor, kita bisa melakukan efisiensi. Per satu juta ton efisiensi kita bisa sampai Rp4-5T.”

Selain gasifikasi batu bara atau DME, Indonesia juga akan mendorong produksi timah dan bauksit, beserta pengelolaannya di dalam negeri.

Diharapkan upaya ini dapat meningkatkan hilirisasi industri tambang Tanah Air, sehingga negara dapat mengurangi impor produk turunan minerba di masa yang akan datang.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Edu Talk IV YPA-MDR: Go Digital Melalui Media Ajar Interaktif