Kapolri Tito Ungkap Alasan Tak Kepung Mako Brimob

"Ada yang ingin melakukan kekerasan, mendukung kekerasan, sekelompok lainnya ada yang tidak ingin."

NASIONAL

Kamis, 10 Mei 2018 22:48 WIB

Author

Rio Tuasikal

Kapolri Tito Ungkap Alasan Tak Kepung Mako Brimob

Kapolri Tito Karnavian (tengah) memberi keterangan pada wartawan usai meninjau rutan cabang Salemba Mako Brimob Kelapa Dua pasca kerusuhan di Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5). (Foto: ANTARA/ Indrianto E)

KBR, Jakarta – Kapolri Tito Karnavian mengungkapkan polisi tidak langsung menyerbu Mako Brimob untuk menghentikan kerusuhan Selasa (8/5/2018) malam guna menghindari jatuhnya korban. Kata Tito, tidak semua napi terorisme mendukung aksi kekerasan. Sehingga pihaknya menghindari konfrontasi besar dan memberikan ultimatum terlebih dahulu. 

"Ada yang ingin melakukan kekerasan, mendukung kekerasan, sekelompok lainnya ada yang tidak ingin," ujar Tito kepada wartawan saat meninjau Mako Brimob, Kamis (10/5/2018) malam. 

"Itulah yang menjadi opsi kami. Jangan sampai ada korban yang banyak, padahal ada yang tidak ingin melakukan kekerasan," paparnya lagi.

Tito mengatakan, ultimatum itu diterapkan hingga Kamis (10/5/2018) pagi, setelah napi teroris melepaskan sandera terakhir pada Rabu tengah malam. Polisi menerjunkan 800-1000 personil untuk mengepung Mako Brimob dan napi teroris pun akhirnya menyerahkan diri. 

"Saya sampaikan kepada presiden bahwa ada situasi seperti itu. Dan kami berikan warning (kepada napi)."

Baca juga:

Kapolri Tito langsung meninjau Mako Brimob sepulang dari Yordania, memenuhi undangan Raja Abdullah II untuk berbicara mengenai pemberantasan terorisme. 

Dalam kerusuhan Selasa (8/5/2018) malam, 10 napi terorisme memukul, merebut senjata, dan menyandera 9 polisi. Tiga orang di antaranya berhasil meloloskan diri. Sementara lima orang tewas dalam penyanderaan dan seroang terakhir, Bripka Iwan Sarjana, dilepaskan setelah polisi memenuhi tuntutan napi terorisme.

Kini Iwan dirawat di rumah sakit lantaran luka di beberapa bagian tubuhnya. Polisi menyatakan kerusuhan itu bermula dari cekcok terkait titipan makanan.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme