BMKG: Mulai Masuk Musim Kemarau, Waspada Kebakaran Lahan

Andi Eka mengatakan potensi kebakaran lahan masih cukup tinggi di sebagian wilayah Indonesia seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimanta Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Merauke.

BERITA | NASIONAL

Senin, 01 Mei 2017 20:05 WIB

Author

Dwi Reinjani

BMKG: Mulai Masuk Musim Kemarau, Waspada Kebakaran Lahan

Ilustrasi. Kebakaran lahan. (Foto: Creative Commons/Wikimedia)


KBR, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Pulau Jawa mulai memasuki musim kemarau pada bulan Mei ini.

Kepala BMKG Andi Eka Sakya mengatakan musim  kemarau akan terjadi antara Mei hingga September. Menurut Andi, musim kemarau tahun ini berpotensi El Nino atau fenomena penyimpangan iklim dimana musim kemarau bakal panjang dan kering.

Meski begitu, potensi El Nino pada tahun ini belum bisa terbaca jelas, karena untuk memprediksi hal tersebut baru bisa dilakukan pada Juli atau Agustus.

"Kalau Mei kemarau maka nanti Oktober akan segera masuk musim hujan. Kami di BMKG sedang melihat tendensi akan terjadi El Nino atau tidak, karena prediksinya harus dilihat tiga bulan sebelumnya, atau sekitar Juli Agustus. Kita akan cek apakah terjadi El Nino atau tidak. Kalau terjadi El Nino berarti kemarau akan panjang," kata Andi kepada KBR, Senin, (1/5/2017).

Andi Eka menjelaskan Indonesia yang luas memiliki ratusan titik zona musim sehingga kedatangan musim kemarau di setiap daerah tidak bisa disamaratakan. Bahkan, menurut Andi Eka, musim kemarau di sebagian provinsi sudah terjadi sejak Januari dan beberapa lainnya akan terjadi di bulan Agustus.

BMKG juga mengeluarkan peringatan larangan menyalakan api atau rokok di area tanaman gambut karena mudah terbakar. Andi Eka mengatakan potensi kebakaran lahan masih cukup tinggi di sebagian wilayah Indonesia seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimanta Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Merauke, Papua Barat. BMKG juga memasang beberapa alat pengukur kelembaban di beberapa wilayah tersebut untuk mengantisipasi masyarakat tentang keadaan daerah sekitar mereka.

"Kita pasang beberapa alat untuk melihat tingginya kelembaban. Alat itu memberi tahu kita keadaan udara yang ada di lokasi kita. Masyarakat bisa mengetahuinya dari Twitter, Facebook atau aplikasi BMKG. Nanti dijelaskan kalau daerahnya berwarna hijau itu aman, kalau merah dan coklat itu sudah waspada," tambah Andi Eka.

Selain untuk mengetahui keadaan udara sekitar, alat tersebut juga akan memberi peringatan kepada sekolah-sekolah, perkantoran dan lainnya untuk memberi tahu keadaan yang terjadi. Jika di suatu zona alat itu menyala merah atau coklat, maka sekolah dan perkantoran dianjurkan memulangkan karyawannya agar lebih aman.

"Nanti siswa atau pegawai bisa diperbolehkan pulang untuk menghindari pencemaran yang terjadi di daerah sekitar tempat mereka beraktivitas. Itu juga salah satu cara menghimbau masyarakat dengan cepat," kata Andi.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Bekas Napi Koruptor Harus Jeda Lima Tahun Sebelum Maju di Pilkada