Jelang Puasa dan Lebaran, Pemerintah Yakin Harga Komoditi Pokok Terkendali

Kenaikan harga-harga komoditi sebulan sebelum puasa tahun ini tercatat lebih rendah dibanding tahun lalu.

BERITA , NASIONAL

Rabu, 04 Mei 2016 21:57 WIB

Author

Ninik Yuniati

Jelang Puasa dan Lebaran, Pemerintah Yakin Harga Komoditi Pokok Terkendali

Ilustrasi. Aktivitas pedagang di pasar tradisional. Foto: KBR/Musyafa

KBR, Jakarta- Kementerian Perdagangan optimistis harga kebutuhan pokok selama puasa dan lebaran terkendali. Kasubdit Hasil Pertanian dan Peternakan Kementerian Perdagangan Tirta Karma Senjaya mengatakan, kenaikan harga-harga komoditi sebulan sebelum puasa tahun ini tercatat lebih rendah dibanding tahun lalu. Kenaikan tahun ini berkisar 7-32 persen, sementara tahun lalu berkisar 10-53 persen. Dia yakin kenaikan harga bisa ditekan di bawah 5 persen.

"Sesuai amanat Presiden, kalau pun ada yang naik, palingan sedikit, karena tadi saya lihat dibanding tahun lalu pun, kenaikannya beda banget, yang 2016 ini naiknya tidak terlalu jauh. Mudah-mudahan polanya masih bisa dijaga seperti yang sekarang berjalan, masih landai. Kalau kenaikan masih dijaga di bawah 5 persen lah" kata Tirta di Menara Kadin, Rabu (4/5/2016).

Tirta Karma Senjaya menambahkan, pemerintah juga yakin bakal mampu menekan harga bawang merah hingga 25 ribu rupiah jelang lebaran. Ini lantaran, pada Juni mendatang, bertepatan dengan panen raya. 

"Bawang saya kira bisa terjun bebas, nanti turun malah. bisa nggak bawang merah 25 ribu? saya yakin bisa, karena justru bulan Juni itu Brebes dan sentra-sentra itu justru panen raya. Sekarang kan harga masih 30an, masih ada yang 40, tapi kualitasnya bagus" ujar dia. 

Perum Bulog juga mengaku siap memenuhi stok beras untuk kebutuhan puasa dan lebaran. Kepala Divisi Perdagangan Subali Agung Gunawan mengatakan stok beras saat ini aman mencapai 1,9 juta ton dan masih mungkin bertambah.

"1,9 dihitung hari ini, kebutuhan rutin kita kan hampir 300 ribu-an ton, per bulan untuk raskin,  dan hari ini juga ada yang masuk dari pengadaan, jadi  mungkin bisa lebih dari 2 jutaan, misalnya panennya masih cukup bagus" ujar Subali.

Sementara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) meminta pemerintah jujur dengan data di lapangan. Wakil Ketua Kadin bidang perdagangan Benny Soetrisno mengatakan, opsi impor semestinya tetap dimungkinkan apabila terjadi kelangkaan barang. Hal ini untuk menjaga inflasi dan daya beli masyarakat.

"Game-nya di perdagangan, cuma buka tutup, yang penting tersedia supaya menjaga inflasi, artinya kemampuan beli terus dijaga, kalau dari dalam nggak ada ya harus dibuka, ini harapan kita dari Kadin, teman-teman di k/l harus semua terbuka jujur, ada nggak barangnya, kalau nggak, ya diantisipasi dibuka. kalau ada, ya harus jujur juga, jadi ditutup" ujar Benny.

Editor: Malika 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

News Beat

Kabar Baru Jam 8

What's Up Indonesia