'Indonesia Negara Superpower Energi Terbarukan Namun Bergantung Energi Fosil'

"Besar sekali potensi energi geothermal Indonesia, dan itu baru digunakan 1-2 persen," kata Kepala Greenpeace Indonesia, Longgena Ginting.

BERITA | NASIONAL

Senin, 09 Mei 2016 16:26 WIB

Author

Billy Fadhila

'Indonesia Negara Superpower Energi Terbarukan Namun Bergantung Energi Fosil'

Ilustrasi pembangkit energi geothermal. (Foto: regionalinvestment.bkpm.go.id)

KBR, Jakarta - Potensi Indonesia sebagai negara dengan energi terbarukan sangat besar. Organisasi lingkungan Greenpeace menyebut energi terbarukan yang banyak dimiliki Indonesia adalah geothermal (panas bumi) dan solar energy (sinar matahari).

Kepala Greenpeace Indonesia, Longgena Ginting bahkan menyebut Indonesia sebagai negara superpower di bidang potensi energi geothermal.

"Potensi paling besar itu geothermal, kita bisa disebut superpower. Potensi Indonesia terbesar nomer dua di dunia, di bawah Selandia Baru. Besar sekali potensinya, dan itu baru digunakan 1-2 persen. Energi sinar matahari juga besar sekali, dan itu belum digunakan sepenuhnya juga," kata Longgena kepada KBR, Senin (9/5/2016).

Selain potensi untuk alam yang lebih bersih dan asri, energi terbarukan juga memiliki nilai ekonomi yang lebih baik daripada energi fosil.

Longgena mengatakan, nilai ekonomi yang dihasilkan energi fosil maupun energi terbarukan sebenarnya bersaing. Namun, dampak yang dihasilkan energi fosil terhadap lingkungan akan sangat merugikan alam, bukan hanya bagi Indonesia, namun juga bagi dunia.

"Sebenarnya cukup bersaing dari segi pasar pun. Sekarang makin banyak di luar sana (menggunakan energi terbarukan) dan itu sebetulnya dapat menyediakan lebih murah daripada energi fosil," kata Longgena.

"Sekarang kita menikmati energi yang 'murah' karena ada subsidi dari pemerintah. Kita tidak menghitung biaya yang muncul akibat penggunaan energi fosil tersebut yaitu biaya dampak lingkungan dan sosial," lanjut Longgena.

Kondisi ini membuat sejumlah LSM lingkungan bergabung membentuk Koalisi Break Free. Koalisi itu terdiri dari Greenpeace Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) dan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam).

Pada Senin (9/5/2016), koalisi ini menyerukan sikap mengenai Indonesia darurat kerusakan lingkungan karena terlalu bergantung pada industri energi fosil.

Koalisi Break Free menyebut, jika Indonesia tidak segera mengganti bahan bakar yang digunakan, bukan tidak mungkin polusi udara di Indonesia masuk ke dalam tahap berbahaya dan akan merenggut banyak nyawa.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Korea Utara Melarang Kedatangan Turis Mancanegara Demi Melindungi Penduduknya Dari Virus Corona