Menuntut Keadilan untuk Transpuan Mira

Mira meninggal dunia usai dianiaya dan dibakar lantaran dituding melakukan tindak pencurian

BERITA | NASIONAL

Selasa, 14 Apr 2020 00:38 WIB

Author

Lea Citra, Ninik Yuniati

Menuntut Keadilan untuk Transpuan Mira

Ilustrasi LGBT. Foto: Wikipedia

KBR, Jakarta - Sudah lebih dari sepekan berlalu, Titin masih tak percaya sahabat karibnya, Mira, sudah berpulang. Yang lebih menyesakkan lagi, Mira meninggal dunia usai dianiaya dan dibakar gerombolan preman di pangkalan truk kontainer Cilincing, Jakarta Utara. Transpuan itu meregang nyawa di Rumah Sakit Koja, Sabtu (4/4/2020) dengan 90 persen luka bakar di tubuhnya. 

"Jujur sampai sekarang pun saya masih shock, masih tidak percaya," ucap Titin singkat saat dihubungi Minggu (12/4/2020). 

Berdasarkan rilis Tim Advokasi Kasus Mira, kejadian mengenaskan itu berlangsung pada Sabtu (4/4/2020) dini hari. Mira diseret dari tempat tinggalnya oleh para pelaku ke pangkalan kontainer pada pukul 01.30 WIB. Ia dituding mencuri telepon genggam dan dipaksa mengaku. 

Di sana, Mira dipukuli hingga babak belur. Tak berhenti sampai di situ, salah seorang pelaku menyiram tubuh Mira dengan bensin. Kemudian, pelaku lain menyalakan korek api yang dengan cepat menyambar tubuh Mira. 

Para preman lantas kabur dari lokasi kejadian. Mira sempat berjalan pulang, tetapi tak berapa lama langsung ambruk tak sadarkan diri. Beberapa warga sekitar lantas membawa Mira ke Rumah Sakit Koja. Namun, nyawanya tak tertolong.

Kepolisian baru menangkap tiga pelaku. Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi menyebut para pelaku tidak berniat membakar Mira, tetapi hanya untuk menggertak agar mengakui tindak pencurian. 

Bagi Titin, pernyataan polisi itu tidak masuk akal. 

"Kalau emang tidak niat membakar, ngapain disiram bensin? Itu memang sudah ada unsur niat. Saya berharap polisi dapat menindak tegas pelaku. Kasus ini tidak dapat dibiarkan begitu saja. Karena akan dampaknya pada teman-teman transpuan, kepada saya, kepada teman-teman lain," ujar Titin. 

Titin meratapi nasib mengenaskan Mira yang telah dikenalnya sejak belasan tahun lalu. Mereka lama menjadi tetangga indekos dan tak jarang pergi 'ngamen' bareng. Ia mengenangnya sebagai sosok yang keibuan, ceria dan humoris. 

"Kamar yang saya tempati sekarang itu bekas kamar Mira dulu di Bekasi. Jadi tiap pulang mejeng itu, Mira kadang dapat duit, dia beli ikan, dia masak ikan Makasar. Dia manggil saya 'mak', walau saya jauh lebih muda dari dia. 'Mak Titin, sudah makan belum?" kenang Titin.

Titin turut menggalang sumbangan untuk melunasi biaya rumah sakit, pemakaman serta utang-utang Mira. 

"Alhamdulillah tercukupi semua, sampai utang makan, minjam duit sama orang. Itu sudah kami bereskan semua. Saya salut sama teman-teman," tutur dia. 

Sejumlah komunitas masyarakat sipil juga ikut ambil bagian penggalangan donasi dan solidaritas untuk Mira. Ada juga yang menginisiasi gerakan seribu lilin untuk Mira. 

"Dana yang terkumpul juga untuk mendukung kerja-kerja paralegal yang memantau kasus ini. Harapan kami ke kepolisian agar bekerja profesional dan serius sehingga rasa keadilan untuk Mira dan komuntas LGBTIQ itu terpenuhi," kata Teguh Iman Affandi, Anggota Dewan Eksekutif Suara Kita. 

Polisi dituntut profesional tangani kasus

Komnas HAM ikut memantau proses pengusutan kasus kematian Mira. Pekan ini, Komnas HAM berencana mengirim surat ke Polres Jakarta Utara untuk meminta penjelasan mengenai progres sekaligus rencana penyelidikan selanjutnya. 

Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara ingin mengklarifikasi tentang pernyataan bahwa polisi tidak akan mengenakan pasal pembunuhan terhadap para pelaku pembakaran. 

"Saya membaca statement Kepolisian Jakarta Utara yang bilang tidak akan mengenakan pasal pembunuhan. Ini yang harus diklarifikasi, apakah betul seperti itu, atau seperti apa? Yang kedua, memastikan langkah-langkah yang ditempuh kepolisian sesuai dengan fakta peristiwa yang ada," kata Beka saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (12/4/2020). 

Beka menduga kasus penganiyaaan terhadap Mira dipicu juga oleh masih kuatnya kebencian terhadap kelompok LGBT. Ia meminta jangan sampai pola pikir semacam ini turut merasuki penegak hukum. Beka memastikan lembaganya siap turun tangan untuk mengawal proses hukum. 

"Kita nanti analisa lagi (hasil klarifikasi) seperti apa. Nanti kan bisa misalnya kemudian bisa melakukan investigasi di lapangan sperti apa fakta-faktanya, menggali keterangan dari saksi-saksi atau mengundang, meminta keterangan. Kedua, kita juga bisa komunikasi seperti apa yang lebih intens, bukan hanya melalui kirim surat saja," imbuh Beka. 

Pengusutan kasus Mira juga menjadi perhatian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Komisioner Kompolnas Poengky Indarti menyebut telah meminta Polda Metro Jaya memastikan seluruh pelaku kekerasan terhadap Mira dihukum setimpal. Menurutnya, tindakan para pelaku sangat biadab dan mengusik rasa kemanusiaan. 

"Dan itu menjadi perhatian masyarakat umum karena tingkat brutalitas tinggi sekali kelompok-kelompok preman itu. Ini diskriminatif banget itu cara mereka memperlakukan transpuan seperti itu. Ini mesti harus ditindak tegas jangan sampai dijaring dengan pasal-pasal yang ringan karena pasti nggak ada efek jera," tegas Poengky saat dihubungi, Minggu (12/4/2020). 

Poengky juga merasa aneh jika para pelaku dinilai tidak berniat membakar Mira. Meski demikian, ia berjanji akan mengawal terus proses pengusutannya sampai tuntas. 

"Menyiram bensin kok nggak sengaja coba. Tapi saya belum tahu apakah benar seperti itu. Nanti coba akan saya cek ya. Kalau misalnya dengan kesengajaan, memang sudah dipersiapkan untuk dibakar, tapi apakah itu yang dimaksud, saya juga nggak ngerti," lanjut eks-aktivis HAM Imparsial ini. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Bagaimana Ketersediaan Tenaga Medis untuk Penanganan Covid-19

Kabar Baru Jam 17

Kabar Baru Jam 15