Bagikan:

Pemerintah Rajin Geber Belanja di Akhir Tahun, Kemenkeu: Indikasi Pemborosan!

"Jika persediaannya semakin tinggi ada indikasi terjadi pemborosan. Ini yang selalu juga menjadi perhatian dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) pada saat melakukan pemeriksaan"

NASIONAL

Rabu, 16 Mar 2022 12:43 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Proyek pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan Seksi 3 di Purwakarta, Jawa Bara

Ilustrasi: Proyek pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan Seksi 3 di Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (16/2/2022). (FOTO : ANTARA/M Ibnu Chazar)

KBR, Jakarta— Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan serapan anggaran belanja negara dalam lima tahun terakhir tidak mengalami perbaikan.

Direktur Pelaksanaan Anggaran Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu Tri Budhianto mengatakan, penggunaan anggaran pemerintah sebagian besar masih dikebut pada triwulan akhir dengan rerata realisasi sebesar 35,58 persen. 

Bahkan, menurutnya, belanja yang dikejar pada akhir triwulan itu mengindikasikan adanya pemborosan di tubuh yang dilakukan aparatur negara.

"Yang terbayang mestinya adalah ada dua kemungkinan. Dia men-delay belanjanya atau memang alokasinya yang terlalu besar atau berlebihan, sehingga menjelang akhir tahun dibelanjakan sebanyak-banyaknya untuk memenuhi penyerapannya. Ini perlu kita pastikan, jika belajarnya melonjak di akhir pasti persediaannya akan lebih tinggi. Dan kita kita sama-sama tahu jika persediaannya semakin tinggi ada indikasi terjadi pemborosan. Ini yang selalu juga menjadi perhatian dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) pada saat melakukan pemeriksaan," ujar Tri Budhianto pada acara Strategi dan Percepatan Belanja APBN Tahun 2022, Rabu (16/3/2022).

Dia menjelaskan, sejak lima tahun terakhir belanja barang operasional pada triwulan ke-I masih sangat kecil. Belanja itu kemudian melonjak tinggi setelah memasuki triwulan ke-IV. 

Kondisi itu juga terjadi di sisi belanja modal. Hampir sebagian besar belanja modal melonjak pada triwulan ke-IV.

Baca Juga:

Jika merujuk dari jenis belanjanya, kata Tri, alokasi terbesar belanja modal masih didominasi untuk membeli peralatan dan mesin. 

Padahal, proses pengadaan barang dan jasa peralatan dan mesin seharusnya tidak sulit karena masih bersifat pembelian. 

Berangkat dari kondisi itu, Tri mengingatkan bahwa proses pembelian yang mendekati akhir tahun akan meningkatkan risiko menurunnya tingkat ketelitian dan akuntabilitas saat menggunakan anggaran.

"Kita juga tahu bahwa semua yang di buru-buru akuntabilitasnya menjadi agak terabaikan. Untuk itu kita perlu melihat kembali proses pelaksanaan pengadaan barang dan jasa mengenai belanja modal harusnya bisa dilakukan percepatan di awal-awal tahun sehingga cepat juga menginjeksi perekonomian kita dan cepat membantu ataupun mendorong pemulihan perekonomian di 2022," sambungnya.

Tidak hanya itu, kondisi ini juga terjadi pada penyaluran bantuan pemerintah untuk masyarakat. Penyaluran bantuan yang digelontorkan sebagian besar direalisasikan menjelang pertengahan dan akhir tahun. Hal itu membuat dampak dari penyaluran baru akan terlihat pada tahun berikutnya.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?