Kapolri: Mahasiswa Sains Lebih Rentan Jadi 'Pengantin' Bom Bunuh Diri

"Mahasiswa yang terkena paham radikal ini adalah teman-teman di (jurusan) sains. Kalau yang di (jurusan) sejarah, sosial, politik jarang kena paham radikal, karena banyak protes," kata Kapolri.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 08 Mar 2017 17:36 WIB

Author

Arie Nugraha

Kapolri: Mahasiswa Sains Lebih Rentan Jadi 'Pengantin' Bom Bunuh Diri

Kapolri Tito Karnavian saat memberikan kuliah umum di depan mahasiswa ITB di Bandung, Rabu (8/3/2017). (Foto: Arie Nugraha)


KBR, Bandung - Mahasiswa jurusan ilmu pasti atau sains dinilai paling rentan digunakan oleh kelompok teroris sebagai 'pengantin' atau pelaku serangan bom bunuh diri.

Pernyataan itu disampaikan Kapolri Tito Karnavian ketika menjadi pembicara dalam kuliah umum Tantangan Kebhinekaan Dalam Era Demokrasi dan Globalisasi di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (8/3/2017).

Tito Karnavian mengatakan berdasarkan penelitian Polri, mahasiswa yang kerap terkena paham radikal kebanyakan dari jurusan sains. Ia mengatakan mahasiswa jurusan ilmu pasti atau mahasiswa sains rentan menjadi pengantin bom karena seringkali kurang bersosialisasi dengan masyarakat.

"Yang lucu dan aneh dari hasil penelitian kita (Polri) ternyata teman-teman mahasiswa yang terkena paham radikal ini adalah teman-teman di (jurusan) sains. Jadi dari jurusan ilmu kimia, ilmu biologi. Kalau yang di (jurusan) sejarah, sosial, politik jarang kena paham radikal, karena banyak protes," kata Tito Karnavian di Bandung, Kamis (8/3/2017).

Baca juga:


Kapolri Tito Karnavian menjelaskan karena kurang sosialiasai, para mahasiswa jurusan ilmu pasti mudah di doktrin konsep kekafiran, Darul Islam, Darul Haq, hijrah, jihad berperang, serta amaliah (aksi).

Tito mengatakan usai memperoleh doktrin tentang konsep-konsep itu, para mahasiswa tersebut diberikan pelatihan senjata atau pun bela diri tangan kosong. Pelatihan itu biasanya dengan kemasan perkemahan, sebagai modal melakukan amaliah.

"Teman-teman mahasiswa harus tahu dulu penyakitnya, yaitu doktrin berbagai konsep tersebut," ujar Tito.

Jika sudah mengetahui berbagai konsep kelompok teror itu, kata Tito, maka para mahasiswa bisa terhindar dari jeratan kelompok radikal.

"Sebanyak seribu teroris dibina oleh 200 anggota Densus. Mereka setiap hari berinteraksi dengan para teroris, tapi tidak ada satu pun anggota Densus yang menjadi radikal karena sudah tahu penyakitnya," tambah Tito.

Tito mengimbau mahasiswa agar mempelajari konsep paham radikal itu guna membentengi dirinya menjadi pelaku teror.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Presiden Menghidupkan Jabatan Wakil Panglima TNI