Bagikan:

Kemendag: Harga Kedelai Tinggi Diperkirakan Terjadi Hingga Jelang Lebaran

"Bukan hanya perajin tahu dan tempe. Importir juga takut untuk mengimpor harga tinggi nanti tidak dibeli oleh perajin tahu dan tempe."

NASIONAL

Senin, 21 Feb 2022 13:04 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Perajin membuat tahu dari kedelai impor di Mulyorejo, Malang, Jawa Timur. Jumat (18/2/22.

Ilustrasi: Perajin membuat tahu dari kedelai impor di Mulyorejo, Malang, Jawa Timur. Jumat (18/2/22.) (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

KBR, Jakarta— Kementerian Perdagangan berjanji akan memastikan ketersediaan pasokan kedelai untuk konsumsi domestik dalam beberapa bulan ke depan kendati harganya masih tetap tinggi.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan menyebut, ketersediaan stok itu akan dipenuhi melalui jalur impor untuk menjamin konsumsi masyarakat dan kelangsungan usaha 150 ribu perajin tahu dan tempe.

"Karena pasokan nasionalnya enggak ada maka kita pastikan kelancaran impor bahan baku kedelainya. Jangan sampai berhenti karena importir sempat berhenti karena harga ketinggian. Bukan hanya perajin tahu dan tempe. Importir juga takut untuk mengimpor harga tinggi nanti tidak dibeli oleh perajin tahu dan tempe. Jadi kita pastikan dulu mereka melakukan importasi dan dalam waktu dekat, saya melakukan edukasi publik akan ada kenaikan harga tahu dan tempe," katanya kepada KBR, Senin (21/2/2022).

Baca Juga:

Oke memprediksi kenaikan kedelai akan terjadi hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kenaikan harga kedelai di tingkat perajin akan mendekati Rp12.000 per kg. 

Dengan begitu, kata dia, maka harga jual tempe di tingkat konsumen naik hingga Rp300 per kg atau menjadi Rp10.600 per kg, disusul naiknya harga tahu dari Rp650 menjadi Rp700 per potong.

Oke menambahkan, mahalnya harga kedelai disebabkan timbulnya masalah di negara importir dan cuaca buruk yang melanda Amerika Selatan (AS) sebagai negara importir. 

Lonjakan harga itu juga dipengaruhi oleh reformasi kebijakan peternakan di Tiongkok yang membutuhkan kedelai dalam jumlah besar untuk pakan lima miliar ekor babi.

"Ada reformasi kebijakan peternakan khususnya babi, karena dua tahun sebelumnya ada penyakit flu babi seperti flu burung sebelumnya sehingga sekarang negara Cina memborong. Jadi ada pembelian besar-besaran yang mengangkat harga internasional. Selain itu harga ini juga dipengaruhi biaya logistik yang tinggi," imbuhnya.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ikhtiar Sorgum untuk Substitusi Gandum

Most Popular / Trending