Green Investment: Investasi Ramah Cuan, Lingkungan dan Sosial

Dukung pelestarian lingkungan lewat instrumen investasi berkelanjutan

Senin, 07 Februari 2022

Gaya hidup go green atau ramah lingkungan kini bukan hanya sebuah pilihan tetapi menjadi kebiasaan yang dikenalkan sejak dini. Kampanye pentingnya menjaga dan melestarikan alam makin marak beberapa tahun terakhir. Tujuannya agar bumi layak huni bagi generasi mendatang.

Sikap pro-lingkungan tidak cuma bisa ditunjukkan dengan mengurangi pemakaian plastik, tetapi juga kesadaran berinvestasi di perusahaan dengan model bisnis berkelanjutan.

Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) Riki Frindos menyebut model bisnis environmental social governance (ESG) makin mendapat tempat. ESG mengukur keberlanjutan dan dampak sosial investasi di perusahaan atau bisnis.

“Konsep berkelanjutan ini mengakomodasi isu-isu besar di masyarakat kita terkait lingkungan dan sosial seperti climate change, sumber proteksi biodiversity. Isu sosial seperti memberikan equal access buat masyarakat, menghargai HAM dan lain sebagainya,” jelas Riki.

Fokus investasi dengan model ESG tak hanya cari untung finansial, tetapi juga dampaknya ke pelestarian lingkungan. 

“Kita berinvestasi di bisnis perusahaan yang berkelanjutan memberikan return buat kita. Kedua, tidak berinvestasi pada bisnis yang merugikan lingkungan, lebih baik lagi memberikan manfaat bagi masyarakat dan bagi lingkungan,” ujarnya.

Baca juga: Perilaku Belanja Generasi Milenial dan Z

Riki Frindos menyebut investasi hijau hadir sebagai respon terhadap ancaman perubahan iklim. Foto: Yayasan KEHATI

Di Indonesia, investasi hijau mulai berkembang sejak tiga tahun terakhir. Riki menjelaskan ada berbagai bentuk investasi hijau yang bisa dipilih investor.

“Tidak hanya green bond tapi juga reksadana, ada juga di saham, ada juga di venture capital dalam bentuk impact investment dan lain lain,” katanya.

Ada sejumlah syarat yang ditentukan oleh Bursa Efek Indonesia jika suatu perusahaan ingin masuk dalam daftar saham ESG. Tiga aspek, lingkungan-sosial-pemerintahan, harus terpenuhi dan saling dukung.

“Aspek sosial, termasuk karyawan bagaimana perusahaan itu memperlakukan karyawannya. Governance atau tata kelola bagaimana mereka mengatur perusahaannya sesuai dengan good corporate governance,” ucap pria yang sudah bergelut di dunia investasi sejak 20 tahun lalu.

Baca juga: Setelah Blok Rokan Kembali ke Pangkuan...

Tangkapan layar kinerja indeks SRI KEHATI di Google Finance

Cara mudah mengetahui saham apa saja yang sudah masuk daftar ESG adalah dengan melihat indeks IDXESGL (ESG Leaders) dan SRI KEHATI. Dari sana investor bisa memilih berbagai perusahaan ramah lingkungan dan memantau kinerjanya.

“Indeks Sri Kehati, itu kinerjanya lebih bagus dari indeks yang lebih umum, kayak LQ45, IDX30,” katanya.

Potensi investasi hijau di Indonesia menurut Riki masih sangat besar. Selain mendukung pelestarian lingkungan. Ketertarikan investor millenial dan generasi Z, tidak melulu fokus pada isu lingkungan dan sosial, tetapi juga menangkap peluang pengelolaan risiko dalam portofolio.

“Kalau generasi millenial sendiri ga peduli sama lingkungan, ga mau mendorong investasi hijau, itu namanya kalian bunuh diri, karena yang akan ngalamin 20-30 ke depan ya kalian,” pungkas Riki.

Simak obrolan lengkap soal investasi hijau Reski Messanto bersama Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) Riki Frindos di program Uang Bicara episode Green Investment: Investasi Ramah Cuan, Lingkungan dan Sosial. 

Podcast ini dapat didengarkan di KBRprime, Spotify, Google Podcast, dan platform mendengarkan podcast lainnya.