Kepala BPIP: Dalam Bernegara Kita Beralih dari Kitab Suci ke Konstitusi

"Sekarang kita yang beragama ini, dalam bernegara harus beralih dari kitab suci menuju konstitusi. Jadi kalau kita tidak bisa mengelola agama maka dia akan menjadi musuh terbesar kita."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 13 Feb 2020 22:24 WIB

Author

Ken Fitriani

Kepala BPIP: Dalam Bernegara Kita Beralih dari Kitab Suci ke Konstitusi

Kepala BPIP Yudian Wahyudi di UIN Yogyakarta, Kamis (13/2/2020). (Foto: KBR/Ken Fitrian)

KBR, Yogyakarta - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menuai kontroversi publik karena pernyataanya terkait dengan agama menjadi musuh terbesar Pancasila.

Yudian pun mengklarifikasi pernyataan tersebut.

Menurut Yudian, lima sila yang ada di Pancasila dapat ditemui di semua kitab suci agama yang diakui di Indonesia.

Orang-orang yang beragama dalam bernegara harus beralih dari kitab suci menuju konstitusi.

"Sekarang kita yang beragama ini, dalam bernegara harus beralih dari kitab suci menuju konstitusi. Jadi kalau kita tidak bisa mengelola agama maka dia akan menjadi musuh terbesar kita. Seperti yang saya katakan, karena dia mayoritas yang masuk ke semua lini kehidupan, " kata Yudian saat ditemui di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (13/2/2020).

Yudian menambahkan, ia tidak mengingkari agama sebab secara bahasa teknis Pancasila adalah teologi sekaligus antropologi. Yang artinya, sumber dan tujuannya ditemukan di kitab suci namun pelaksanaanya membutuhkan kemanusiaan.

"Manusia yang ada di bawah ini kan ada enam agama. Mereka melakukan kesepakatan-kesepakatan menuju konstitusi. Baru kemudian di masing-masing internal agama ada minoritas yang mengklaim mayoritas itu masalah. Orang-orang kaya gini harus tahu, bahwa mereka bukan mayoritas. Terbukti di mana? Nyatanya ndak berhasil," kata Yudian.

Yudian mencontohkan, jika ia menyebut kata ulama yang dimaksud adalah ulama seolah-olah adalah mayoritas. Padahal, mayoritas di Indonesia adlaha Muhammadiyah, NU, MUI.

"Itu contoh, ketika kita belum memahami bahwa yang tertinggi itu adalah konstitusi, konsesus. Agama itu hanya penopang utamanya. Untuk bernegara, berbangsa kita kembali ke Pancasila, ke konstitusi. Tapi kalau untuk beragama kembali masing-masing. Makanya saya pakai konsep lama Bung Hatta perlunya filsafat garam yang berarti konstitusi, bukan penafsiran masing-masing kelompok, " paparnya.

Yudian mengaskan, pernyataannya beberapa waktu lalu sama sekali tidak menafikkan agama. Namun, di beberapa media pernyataan tersebut di pelintir.

"Bagi saya ini sama dengan jihad. Saya beralih dari seorang Muslim ke seorang warga negara. Dari pejabat rektor menuju ke negara yang lebih luas. Jadi sama sekali tidak menafikkan agama. Malah yang saya maksud jangan benturkan Pancasila dengan agama. Ini yang berbahaya, " kata Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pemerintah Diminta Cegah Dugaan Praktik Dumping Impor Baja Cina

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14