Bagikan:

Harga Beras Tinggi, Intervensi Pemerintah Lemah

Jika dilihat secara daerah seperti Provinsi Papua dan Papua Barat, untuk beras kualitas bawah I harganya Rp12.050 dan Rp13.250.

NASIONAL

Rabu, 18 Jan 2023 11:58 WIB

Author

Muthia Kusuma

Harga Beras Tinggi, Intervensi Pemerintah Lemah

Ilustrasi: Presiden Joko Widodo saat meninjau Gudang Bulog di Kelapa Gading (18/3/2020). (Foto: ANTARA/HO-Biro Pers Setpres)

KBR, Jakarta- Pemerintah dituding lemah dalam hal intervensi harga beras di pasaran. Akibatnya hingga saat ini harga beras masih tinggi di pasaran.

Tudingan itu disampaikan pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori. Kata dia, stok beras dari petani domestik pada akhir tahun lalu tidak cukup surplus untuk membanjiri pasar.

Sementara beras yang diimpor Badan Urusan Logistik (Bulog) mengalami keterlambatan sehingga Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tidak cukup kuat untuk menekan lonjakan harga beras saat ini.

"Kenapa harga sekarang masih tinggi? Sepertinya Bulog menekan operasi pasar. Kalau melihat data terakhir Desember 2022, akhir tahun. Stoknya itu hanya 326 ribu kalau tidak salah. Ini lagi-lagi stok terendah sepanjang sejarah," ucap Khudori kepada KBR, Selasa, (17/01/2023).

Pantauan Harga Beras

Berdasarkan pantauan di situs hargapangan.id, per Rabu, (18/1), harga beras kualitas bawah I Rp11.550 per kilogram, sedangkan untuk beras kualitas medium I Rp12.650 dan medium II Rp12.550 per kilogram.

Jika dilihat secara daerah seperti Provinsi Papua dan Papua Barat, untuk beras kualitas bawah I harganya Rp12.050 dan Rp13.250.

Impor Merugikan Petani

Pada kesempatan berbeda, pengamat ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Muhammad Andri menyarankan pemerintah tidak bergantung dengan impor beras untuk menekan harga. Menurutnya, impor beras merupakan solusi jangka pendek dan sangat merugikan petani, serta tidak membuat Indonesia mempunyai ketahanan pangan.

Ia menilai, panjangnya rantai pasok dari petani sampai konsumen juga berdampak pada peningkatan harga beras. Karenanya rantai pasok ini harus diubah agar lebih efisien.

Selain itu ia mengusulkan penguatan sarana untuk produksi hasil pertanian oleh Bulog dan Bapanas. Hal lain yang juga perlu ditambah ialah subsidi pupuk bagi petani.

Baca juga:

Editor: Sindu

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Episode 5: Gen Z: Si Agen Perubahan Penentu Masa Depan

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending