Bagikan:

Banjir Semarang Akibat Maraknya Alih Fungsi Lahan

Guru Besar Ilmu kependudukan dan Lingkungan Universitas Negeri Semarang, Saratri Wilonoyudho memprihatinkan, banyak kawasan resapan air dan hutan terbuka di Semarang yang kini beralih fungsi.

NASIONAL | NUSANTARA

Senin, 09 Jan 2023 18:49 WIB

Author

Anindya Putri

Banjir Semarang

Banjir di Semarang, Jawa Tengah turut merendam Stasiun Tawang pada 31 Desember 2022. (Foto: antaranews)

KBR, Semarang - Pengamat Lingkungan menilai banjir yang merendam Semarang, Jawa Tengah awal Januari kemarin, dampak dari maraknya alih fungsi lahan.

Guru Besar Ilmu kependudukan dan Lingkungan Universitas Negeri Semarang, Saratri Wilonoyudho memprihatinkan, banyak kawasan resapan air dan hutan terbuka di Semarang yang kini beralih fungsi.

"Beberapa penyebabnya itu tata ruang yang tidak mengindahkan fungsi lahan sebagai daerah terbangun dan resapan. Jadi perlu ditinjau seperti memotret dari udara ruang mana saja yang seharusnya tidak boleh ditempati malah ditempati itu harusnya dievaluasi. Kemudian adanya penurunan tanah setiap tahunnya," ungkap Saratri di Semarang, Senin (09/01/23).

Saratri menambahkan, selain alih fungsi lahan penyebab banjir di Kota Semarang juga diakibatkan penurunan permukaan tanah setiap tahunnya.

Imbasnya, air laut naik ke daratan sehingga air sungai yang ke seharusnya mengalir ke laut, justru kembali ke daratan.

Baca juga:

- Ganjar Kirim Kapal Pelni Jemput Wisatawan Terjebak di Karimunjawa

- BMKG: Ada Potensi Cuaca Ekstrem Saat Mudik Nataru

Selain itu, banjir yang menggenangi Semarang juga disebabkan pembangunan drainase yang tidak memadai, dan tidak saling terkoneksi.

"Artinya, jaringan drainase di kota lunpia tidak saling terhubung ke sungai sehingga limpasan air hujan tidak terserap dengan cepat," imbuhnya

Awal Januari kemarin, 7 kecamatan di Semarang terendam banjir. Banjir juga merendam dua stasiun kereta api, yakni Tawang dan Poncol.

Editor: Fadli

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Laku Ramah Lingkungan dari Bilik Kecil Kantin Sekolah di Bali

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending