Bagikan:

Satgas BLBI Sikat Terus Aset Grup Texmaco

Penyitaan aset dilakukan terhadap 159 bidang tanah, yang ada di 6 kota dan kabupaten. Diperkirakan, jumlah aset yang disita bernilai Rp1,9 triliun.

NASIONAL | NUSANTARA

Kamis, 20 Jan 2022 13:35 WIB

Sikat Terus Aset Grup Texmaco

Ketua Dewan Pengarah Satgas BLBI Mahfud MD umumkan sita aset Grup Texmaco pada (20/1/2022). (Foto: Tangkapan layar Youtube Kemenkopolhukam RI)

KBR, Jakarta - Ketua Dewan Pengarah Satgas Bantuan Likuditas Bank Indonesia (BLBI) Mahfud MD menjelaskan, satgas yang dipimpinnya hari ini kembali menyita aset milik Grup Texmaco.

Penyitaan aset dilakukan terhadap 159 bidang tanah, yang ada di 6 kota dan kabupaten. Diperkirakan, jumlah aset yang disita bernilai Rp1,9 triliun.

"Yang berlokasi di Kota Tangerang, Kota Semarang, Kabupaten Karawang, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Batang, dengan total luas tanah sebesar 1,9 juta meter persegi," kata Mahfud MD saat konferensi pers (20/1/2022) .

Mahfud menambahkan, penyitaan aset milik Grup Texmaco hari ini, sudah merupakan yang kedua kalinya.

Melalui penyitaan aset Grup Texmaco tahap kedua, menurut Mahfud, secara keseluruhan dalam 7 bulan terakhir, Satgas BLBI telah melakukan penyitaan aset yang kalau dirupiahkan sebanyak Rp15,11 triliun. 

Jejak Konglomerat Pemilik Grup Texmaco

Pada tahap pertama, 23 Desember 2021, Satgas BLBI menyita 587 bidang tanah seluas 4,8 juta meter persegi milik Grup Texmaco.

Bidang tanah tersebut terletak di lima daerah, yaitu Kabupaten Subang, Kabupaten Sukabumi, Kota Pekalongan, Kota Batu dan Kota Padang.

Grup Texmaco merupakan salah satu daftar debitor prioritas Satgas BLBI yang masuk dalam dokumen Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI tertanggal 15 April 2021.

Utang Texmaco kepada pemerintah ditaksir mencapai Rp29 triliun dan 80,57 juta dolar AS.

“Dengan melakukan penyitaan aset, itu adalah bagian dari recovery sedikit saja recovery dari aset negara dengan jumlah utang Rp29 triliun plus 80,5 juta dolar AS,” kata Sri Mulyani dalam keterangannya dikutip pada Sabtu 1 Januari 2022.

Baca juga:

Satgas BLBI: Tak Ada Lagi Nego ke Obligor dan Debitur

Satgas Penagih BLBI Buka Peluang Tempuh Jalur Pidana

Sebelum 1998, Grup Texmaco adalah salah satu perusahaan yang meminjam dana kepada bank-bank sebelum terjadi krisis keuangan 1997-1998. Bank yang dipinjamnya bervariasi yaitu Bank BRI, BNI, Bank Mandiri dan bank swasta.

Sri Mulyani mengungkapkan bank-bank tersebut kemudian di-bailout (ditalangi) oleh pemerintah pada saat terjadi krisis pada 1997-1998. Beberapa bank bahkan mengalami penutupan.

Adapun pinjaman awal Grup Texmaco sebesar Rp8,08 triliun dan 1,24 juta dolar AS untuk divisi engineering. Sementara untuk divisi tekstil sebesar Rp5,28 triliun dan 256.590 dolar AS.

Pinjaman tersebut juga berbentuk mata uang lain yakni 95.000 poundsterling dan 3 juta yen Jepang. Pada saat dilakukan bailout oleh pemerintah, utang tersebut dalam status macet.

Konglomerat empunya Grup Texmaco adalah pengusaha tekstil Marimutu Sinivasan. Bos Texmaco tersebut membantah pernyataan Menkeu Sri Mulyani soal tunggakan BLBI.

Dikutip dari Kontan, Marimutu Sinivasan adalah seorang pengusaha tekstil dan garmen. Namanya beberapa kali masuk dalam deretan orang terkaya di Indonesia.

Bisnisnya juga meluas ke industri alat berat dan mesin. Perusahaannya tercatat sempat memasok truk untuk TNI. Selain BLBI, ia juga sempat berperkara dengan Bank BNI terkait kredit macet.

Ia juga dikenal dekat dengan Presiden RI kedua HM Soeharto. Sebelum kejatuhan Orde Baru, perusahaannya memperoleh pinjaman miliaran dollar AS dari bank dan lembaga pemerintah untuk Texmaco.

Pada tahun 2013, namanya sempat masuk dalam skandal perusahaan cangkang terkait penghindaran pajak yang informasi rahasianya dibocorkan oleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ).

Nama Marimutu Sinivasan tercatat di antara 2.500 nama orang Indonesia yang ditemukan di dokumen-dokumen penyedia jasa offshore Singapura, Portcullis TrustNet.

Pada akhir tahun 1997, pegawai TrustNet Stephen Breed datang ke Jakarta untuk bertemu pimpinan Texmaco itu.

Saat itu Indonesia memasuki krisis. Sinivasan yang dekat dengan Soeharto, telah memperoleh pinjaman 2,2 miliar dollar AS dari bank dan lembaga pemerintah untuk Texmaco.

Pada 4 April 1997, TrustNet mendirikan perusahaan offshore di Kepulauan Cook bernama Pipeline Trust Company Limited. Pada 13 Agustus 1997, TrustNet mentransfer saham-saham perusahaan itu menjadi atas nama Sinivasan.

Sinivasan menjadi satu-satunya pemegang saham. Namun Pipeline menggunakan anak usaha TrustNew Directcorp dan Secorp sebagai direktur dan sekretarisnya.

Kemudian TrustNet mengirimi Sinivasan dokumen surat kuasa pada 11 Desember 1997. Dengan dokumen ini, Sinivasan bisa membuka rekening bank dan mentransfer dana dari dan ke dalam rekening atas nama perusahaan itu.

Editor: Fadli Gaper

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Buntu Penolakan Pemekaran Wilayah Papua