Bagikan:

INDEF Sebut Dampak Positif dan Negatif Subsidi Minyak Goreng

"Jangka pendek itu dia bisa meredam kenaikan harga minyak goreng, minyak goreng yang memang terkait dengan kenaikan CPO. In the short term, it's okay. Tapi in the long term, itu kurang bagus."

NASIONAL

Selasa, 25 Jan 2022 23:45 WIB

minyak goreng

Warga antre membeli minyak goreng bersubsidi di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/1/2022). (Foto: ANTARA/Arif Firmansyah)

KBR, Jakarta - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah mengatakan pemerintah tak bisa hanya mengandalkan subsidi untuk menekan harga minyak goreng untuk jangka panjang.

Meskipun untuk jangka yang pendek, kebijakan minyak goreng satu harga Rp14 ribu tepat dilakukan.

"Jangka pendek itu dia bisa meredam kenaikan harga minyak goreng, minyak goreng yang memang terkait dengan kenaikan CPO. In the short term, it's okay. Tapi in the long term, itu kurang bagus. Nanti kalau subsidi terus, ya jebol. Meskipun pemerintah mengatakan bahwa subsidi ini hanya enam bulan. Nanti setelah enam bulan akan dievaluasi. Dan banyak prediksi CPO naik itu, akan turun ya. Kemudian sisi positifnya, ini kan menjelang lebaran. Jadi salah satu yang tepat," kata Rusli saat dihubungi KBR (25/01/22).

Baca juga:


Dampak positif negatif

Rusli Abdullah melihat kebijakan minyak goreng satu harga memiliki dampak positif dan negatif.

Untuk jangka panjang, ia khawatir kebijakan ini memberikan kerugian negara karena terlalu besar mengeluarkan subsidi di tengah masih banyaknya kebutuhan lain, seperti program-progam pemulihan ekonomi lainnya. Pemerintah perlu memikirkan langkah lebih lanjut ke depan.

Tetapi di satu sisi, kebijakan ini memang diperlukan saat ini. Apalagi dalam waktu dekat, Indonesia akan merayakan hari raya Idul Fitri yang biasanya memicu kenaikan harga pangan.

Terkait implementasi kebijakan saat ini, pemerintah perlu berfokus pada pengawasan sembari berusaha memberikan keadilan bagi para pedagang pasar penjual minyak goreng.

"Ada dia punya stok harganya tinggi sebelum ada kebijakan itu, tiba-tiba harus menjual minyak dengan harga Rp14 ribu. Saya kira pemerintah harus ada skema mengganti kerugian itu. Jadi tinggal klaim saja produsen maupun pedagang. Pengklaiman ini perlu ada sebuah pengklarifikasian yang detail," lanjutnya.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Kemarau Tiba, Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan