Bagikan:

Cakupan Vaksinasi COVID-19 di Daerah Masih Timpang, Ini Penyebabnya

Capaian vaksinasi COVID-19 di daerah terpencil dan sulit dijangkau masih belum sesuai target. Seperti di Papua dan Papua Barat.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 12 Jan 2022 16:23 WIB

Vaksinasi COVID-19

Petugas melakukan vaksinasi COVID-19 ke warga di area pemilihan kepala desa di Mamuju, Sulawesi Barat, Rabu (22/12/2021). (Foto: ANTARA/Akbar Tado)

KBR, Jakarta - Sejak vaksinasi COVID-19 digelar pertengahan Januari tahun lalu, capaian vaksinasi masih belum mencapai 100 persen dari sasaran vaksinasi Covid-19. 

Capaian vaksinasi di daerah juga belum merata dan timpang. Misalnya, Papua dan Papua Barat masih jauh tertinggal dibanding daerah lain. Padahal, di daerah lain sudah dimulai program vaksinasi untuk anak 6-11 tahun dan vaksin dosis ketiga atau booster.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah terus berupaya mempercepat capaian vaksinasi COVID-19 di setiap daerah. Sebab, saat ini masih ada lima provinsi yang belum mencapai target vaksinasi 70 persen untuk dosis pertama. Padahal, pada 13 Januari 2022, tepat setahun Indonesia melakukan program vaksinasi.

"Khusus untuk vaksinasi ini sudah hampir semua provinsi mencapai 70 persen, yang minggu lalu masuk adalah provinsi Aceh. Selamat untuk provinsi Aceh dan provinsi Kalimantan Barat. Tinggal lima provinsi lagi yang belum mencapai 70 persen suntikan pertama, adalah Sumatera Barat, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat dan Papua. Stok vaksin yang ada di pegang pemerintah sekarang ada 446 juta total. Jadi kalau sudah disuntikkan 288 juta, masih ada lebih dari 150 juta dosis yang kita bisa suntikan," kata Budi dalam keterangan pers, Senin (10/1/2022).

Data vaksinasi dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, capaian vaksinasi dosis pertama sudah mencapai 82,66 persen. Sedangkan dosis kedua baru 56,63 persen dari total target sasaran, yakni lebih dari 208 juta jiwa penduduk.

Dari data nasional vaksinasi tersebut, masih ada daerah yang capaian vaksinasi dosis pertamanya, masih di bawah 50 persen, yaitu provinsi Papua. Per Selasa (11/1/2022), vaksinasi dosis pertama di provinsi paling timur tersebut baru 29,1 persen.

Di Sumatera Barat, capaian vaksinasi dosis pertama sebesar 69,4 persen dan dosis kedua 44,9 persen. Untuk Sulawesi Barat, capaian vaksinasi dosis pertama sebesar 67 persen dan dosis kedua 39 persen. Di Maluku, vaksinasi dosis pertama mencapai 61 persen dan dosis kedua 29,8 persen. Papua Barat sebesar 54 persen (dosis pertama) dan 34,6 persen (dosis kedua).  

Baca juga:

Penyebab ketimpangan

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aaron Rumainum mengakui, capaian vaksinasi di Papua masih sangat rendah dan tidak merata.

"Memang jujur hari ini kami yang paling rendah baik dosis pertama dan dosis kedua di Indonesia. Kami sudah memetakan kabupaten-kabupaten vene PON seperti Merauke, kota Jayapura, itu sudah mencapai 71 persen suntikan pertama. Tapi ada kabupaten yang itu sasaran di Papua itu cuman 23 persen total sasaran dari kabupaten venue PON. Ada 5 kabupaten yang sasarannya 33 persen dari total sasaran Papua yang cakupannya masih 1,6 persen, Tolikara, Lanny Jaya, Puncak Jaya, Paniai dan Yahukimo," kata Aaron saat dihubungi KBR.

Aaron menyebut vaksinasi di Bumi Cenderawasih masih terkendala medan berat dan penolakan dari masyarakat. Kata dia, Dinas Kesehatan Papua terus melakukan terobosan untuk mempercepat vaksinasi di seluruh kabupaten/kota.

"Kami bekerja sama dengan dinas kesehatan dan puskesmas, untuk memvaksinasi orang asli Papua. Awalnya mereka takut, tapi ketika camat, kepala kampung/desa mau disuntik maka masyarakatnya ikut, itu cara-cara kami. Cuma memang saya tahu cara ampuh itu kalau, Bapak Gubernur (Lukas Enembe), yang dalam keadaan fisik begitu berani disuntik vaksin dan bisa berbicara kepada masyarakat supaya mau divaksin, pasti masyarakat banyak mau divaksin," imbuhnya.

Kondisi tak jauh berbeda, juga terjadi di Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Bupati Kabupaten Landak, Karolin Margret Natasa mengatakan capaian vaksinasi dosis pertama dan kedua di sana masih jauh dari target, meski vaksinasi tingkat provinsi sudah lebih dari 70 persen.

Ia meminta pemerintah pusat lebih berfokus pada pemerataan vaksin dosis lengkap, sebelum pelaksanaan booster.

"Booster itu kan bukan solusi. Booster itu kan bukan sembarang booster. Tentu harus melihat kapan dia vaksin, boosternya kapan. Baru sebulan lalu masa sudah booster. Kami minta pemerintah pusat mempertimbangkan pendapat para ahli dulu lah baru bicara booster. Nggak usah ngomong booster, kita sekarang lagi menyisir daerah-daerah terpencil yang sulit. Kita masih fokus mencapai target vaksinasi dosis satu. Jangan sampai mengganggu ketersediaan vaksin untuk yang dosis satu dan dosis dua di daerah yang belum mencapai target," kata Karolin kepada KBR, Senin (10/1/2022).

Baca juga:

Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengakui, banyak tantangan untuk melakukan vaksinasi di daerah-daerah dengan keterbatasan secara geografis.

"Bagaimana kecepatan distribusi yang sudah kita kirimkan dari pusat itu diterima oleh provinsi, nah kemudian bagaimana provinsi mendistribusikan ke seluruh kabupaten kotanya tidak semua kabupaten kota itu misalnya punya penerbangan yang reguler, artinya kalau kita mau cepat kita kirim melalui penerbangan reguler. Tapi ternyata tidak semua kabupaten kota punya penerbangan reguler, atau pun juga distribusi itu harus kita tempuh melalui jalan darat atau melalui jalan sungai atau laut nah ini yang pasti akan ada sedikit tantangan," kata Nadia.

Nadia menambahkan, tantangan lain di daerah-daerah tersebut adalah jarak fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang cukup jauh dari tempat tinggal masyarakat. 

Sehingga membutuhkan upaya yang lebih bagi petugas kesehatan untuk melakukan vaksinasi ke rumah-rumah warga, termasuk bagi masyarakat yang ingin datang untuk vaksin.

Masalah lain ialah, masih ada masyarakat yang ragu divaksin. Karena itu, butuh usaha lebih untuk mengedukasi dan meyakinkan masyarakat tentang pentingnya vaksin Covid-19.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Buntu Penolakan Pemekaran Wilayah Papua