Teror Bom di Rumah Pimpinan KPK, Polda Metro Periksa 6 Saksi

"Ada enam udah diperiksa. Pak laode sudah kami periksa hari ini"

BERITA , NASIONAL

Rabu, 09 Jan 2019 22:24 WIB

Author

Astri Yuanasari, Resky Novianto

Teror Bom di Rumah Pimpinan KPK, Polda Metro Periksa 6 Saksi

Polisi memeriksa area temuan benda diduga mirip bom di Ketua KPK, Agus Rahardjo di Bekasi. (Foto: Antara/Risky Andrianto)

KBR, Jakarta - Tim penyidik Polda Metro Jaya telah memeriksa enam orang saksi terkait kasus dugaan teror bom molotov di rumah pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode Muhammad Syarif.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Argo Yuwono mengatakan, enam orang saksi yang diperiksa tersebut termasuk Laode M Syarif.

"Ada enam udah diperiksa. Pak laode sudah kami periksa hari ini. Itu aja," katanya ditemui di Polda Metro Jaya, Rabu (9/1/2019).

Hanya saja, Argo tidak menyebutkan siapa saja lima saksi lainnya. Menurutnya, yang diperiksa itu mereka yang mengetahui, melihat, dan mendengar bom molotov tersebut.

"Yang melihat mendengar, mengetahui termasuk tetangga? Pokoknya semua yang mengetahui kami periksa. Kita tunggu saja, masih kita bekerja," imbuhnya.

Argo menambahkan, kepolisian sudah mengamankan kamera pengawas (CCTV) dan sedang dievaluasi.

"Sudah kami amankan kami evaluasi. Saya belum ngecek berapa jumlahnya," ujarnya.

Argo menambahkan, pemeriksaan serupa juga dilakukan di rumah Ketua KPK, Agus Rahardjo di Bekasi.

Rabu (9/1/2019), sekitar pukul 01.00 WIB, rumah pimpinan KPK Laode Muhammad Syarif di Jalan Kalibata Selatan Nomor 42 C diduga dilempar bom molotov. Dari hasil rekaman CCTV, terlihat seseorang yang mencurigakan terekam beraktivitas di sekitar rumah Laode.

Pada jam yang sama, rumah Ketua KPK, Agus Rahadjo juga mendapat teror serupa. Bahkan di kediaman Agus, terdapat tas berwarna hitam yang diduga berisi bom jenis rakitan high explosive.

Anggota Komisi III DPR, Teuku Taufiqulhadi mengatakan teror bom molotov yang terjadi di rumah dua pimpinan KPK bukan sesuatu yang serius, mengingat situasi di dalam negeri saat ini sedang sensitif, sehingga masyarakat dengan mudah mengaitkan suatu kejadian dengan hal yang tidak relevan.

Menurutnya, kinerja KPK dalam menangani kasus korupsi tidak boleh terganggu pascateror di rumah pimpinan KPK.

"Teror itu kan bom molotov itu memang adalah sebuah usaha teror tetapi menurut saya itu bukan sesuatu yang serius. Sekarang ini adalah sebuah situasi yang agak sedikit sensitif, maka orang akan mengaitkan kesana kemari nanti. Tetapi menurut saya bisa saja itu untuk meneror. Jadi saya ingin mengatakan kepada KPK, tidak usalah terganggu dengan persoalan itu. Jalan saja KPK," kata Taufiqulhadi saat dihubungi KBR di Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Taufiqulhadi mengimbau masyarakat untuk tidak melihat kejadian itu sebagai hal yang serius, karea kepolisian pasti akan mengusut teror tersebut sampai tuntas.

Ia juga meminta agar masyarakat tidak berspekulasi lebih jauh dan bereaksi secara berlebihan menanggapi aksi teror molotov tersebut.

"Tetapi siapapun termasuk masyarakat jangan melihat itu secara serius. Benar itu usaha meneror menakut-nakuti, tapi tidak terlalu serius. Jadi jangan melebih-lebihkan. Komisi III belum berencana membentuk tim khusus terkait teror pada pimpinan KPK ini," pungkas Taufiqulhadi. 

Baca juga:

Editor: Kurniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.